Reportase KKN Undip Tim I Desa Cepiring Kec, Cepiring 2014


Cepiring, 14 Januari 2014, Sebanyak 11 orang mahasiswa Universitas Diponegoro memulai kegiatan Kuliah Kerja Nyata di Desa Cepiring Kec.Cepiring Kab.Kendal Jawa Tengah. Sebelum berpartisipasi di dalam kegiatan upacara di Kantor Kecamatan Cepiring pada tanggal 15 Januari 2014, tim terlebih dahulu telah disambut oleh Kepala Desa Cepiring di rumahnya dan sekaligus dijadikan sebagai posko KKN Desa Cepiring.

Upload 1

15 Januari 2014, Tim Desa Cepiring mengikuti kegiatan upacara penyambutan
mahasiswa KKN oleh Kepala Kecamatan Cepiring yang bertempat di kantor
kecamatan yang terletak di Desa Karang Ayu. Pelaksanaan upacara penerimaan
dimulai pukul 09.00 – 11.00 WIB, upacara di buka oleh Kepala Kecamatan dan di
ikuti oleh sejumlah perangkat kecamatan dan juga dihadiri oleh seluruh Kepala
Desa se Kecamatan Cepiring yang berjumlah 15 Desa.

16 Januari 2014, Merupakan hari kedua bagi tim untuk melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bertepatan dengan pertemuan PKK se tingkat Desa yaitu 16 Januari 2014, tanpa pikir panjang tim langsung saja berkoordinasi dengan Kepala Desa untuk dapat bergabung pada kegiatan tersebut dan menjalankan program kerja yang telah dipersipkan sebelumnya. Untuk program kerja, di jalankan oleh Karina Marcelia (Ilmu Gizi.FK) dan Budi Setiawati (Perikanan.FPIK). Untuk materi pertama di sampaikan oleh Karina yang menjelakan cara pembuatan jagung susu sebagai upaya dalam peningkatan karbihidrat dan protein anak-anak.Sedangkan materi kedua disampaikan oleh Budi yang menerangkan cara dan resep pebuatan nugget yang berbahan dasar daging ikan, terutama ikan lele. Anggota PKK sangat antusias dalam menyaksikan penampilan tim dibuktikan dengan banyaknya ibu-ibu yang bertanya. Sementara pada malam harinya, im beserta Kepala Desa, Pak Kiswilopo berkunjung ke rumah ketua RT guna bersilahturahmi.

17 Januari 2014, Hari ketiga, Tim melakukan sosialisasi program kerja ke sekolah-sekolah sekaligus menyebarkan undangan permohonan izin melakukan kegiatan. Sekaloh yang telah sempat dikunjungi yaitu SDN 2, SDN 4, SDN 5, SMA N 1, serta Polsek Cepiring.

18 Januari 2014, Semulanya Tim akan menjalankan program kerja di TK Kasih Bunda, namun karena dari dini hari hujan tidak juga kunjung reda sampai pagi hari dan jumlah peserta didik yang banyak tidak hadir, maka program kerja di undur sampai batas waktu yang belum ditentukan. Sementara pada siang hari tim menjalankan program kerja di SDN 4 yang di lakukan oleh Iham (Oseanografi,FPIK) dengan tema “pengenalan Biota Laut”, Yudhea (Keperawatan.FK) dengan tema “cuci tangan yang benar” dan Suyamto (Keperawatan.FK) yang bertemakan “Etika batuk dan bersin”.

19 Januari 2014,  Ppada sore hari Aswin (Teknik elektro.FT), Reza (IESP,FEkonomika dan Bisnis) dan Ilham (Oseanografi,FPIK) mengikuti kegiatan PKK setingkat RW yang bertempat di RW 04, Desa Cepiring. Aswin yang juga sebagai Koordinator Desa mensosialisasikan ” keuntungan penggunaan listrik prabayar” tujuannya adalah semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan listrik prabayar, program kerja ini juga turut serta mendukung program pemerintah,sedangkan  Reza yang berasal dari F.Ekonomika dan Bisnis mensosialisasikan tentang “cara membedakan uang asli dengan uang palsu” dan Ilham yang berasal dari Oseanografi

Sekian dulu untuk minggu pertama, nantikan kisah-kisah selanjutnya bersama Desa Cepiring, Kec. Cepirng…. Matur Suhun

MARINE TOURISM AS A SPECIAL INTEREST


In fact, Indonesia is a maritime country unique , and has 70% of the region is the ocean. As area of ​​the ocean , in the development of tourism , our attention to the marine area was still small. In Central Java , for example , the development of tourism still focuses on land area  and if you develop marine areas  still revolves around the use of coastal areas except area of ​​Karimun Jawa. It was only one priority yet professional manner.

Actually maritime area  as part of ecotourism  has tremendous appeal. Therefore, ” Marine Tourism” or a Marine Tourism ” for special interest tourism”. As special interest tourism, the tourist product should be dominated by marine attractions activities such as : diving, surfing, fishing,boating,and other activities that are relevant such as turtle breeding,breeding fish (such as sharks and rays ),protection and other organisms as conservation effort .

The above activities require special facilities and standards, HR professionals the cost is not small that’s probably why our cultivation of marine tourism , especially in Central Java is still lagging behind , it is fitting our theme today is ” Dive for economic solution” . We need realize that by the late 20th century and early 21st century in the world of tourism there are major changes in market demand . Ward (1997 ) , mentions four things namely :
( 1 ) Travelers began not long satisfied with the products offered
( 2 ) Increased awareness of the environmental and cultural sensitivity
( 3 ) Awareness and utilization of natural resources excessive HR will disturb the balance
( 4 ) Changes in tourism players

They are aware if you want to keep obtain a profit should look for other alternatives namely in terms of management is on going. So the ” marine tourism” that will work as a special interest should also be ” responsible travel ” , and sustainable , this means that it should be:
(a) Actively contributing conservation of nature and culture
(b) Involve local communities in the planning, development, and management, in order to contribute positively to them
(c) The form of environment – based tourism industry, and provide the smallest possible impact on the damage nature and local culture
(d) Creation of employment and income of local communities and conservation activities . ( UNEP , 2000)

With a basic understanding of the above , and adopt the reasoning Front (2004 ) , according to the author, the basic concept of working “marine tourism” should not forget the following things .
1. In providing trips out door or to the marine area , should not cause damage , try wherever possible energy saving , recycling or model
2. Vehicle for transport , should take advantage of transportation created and managed by the community . ( The author has proposed to the Government of the city, for example : Due to the high statue of Zheng He , and of causing traffic jams in Simongan ( Pamularsih Road ) , and the improvement of the river Flood Canal west , the authors proposed that the car park was made in the region Marine Land Mas with international standards , the end of the boat ride ” Cheng Ho ” from the dock in the Land of Mas sailing down the river West Flood Canal , and down at Simongan . roundtrip from Simongan in special vehicle ( Car Shampoo Kong ) , so it becomes special interst )

For ” marine tourism” trips or activities then attention on the natural environment and local culture. If it is adhered to and addressed, it would appear is :
a. Reduction of negative effects such as : damage , environmental pollution , and degradation of the local culture .
b . Should build awareness and tribute top local environment and cultural atmosphere where the attractions are managed
c . Offers a new positive experience both on the tourists and the local community as a result of cultural contact
d . Provide financial benefits both to the managers and local communities .
e . Provide direct financial especially for conservation .
f . Empowerment of local communities and create tourist – oriented products or promoting local cultural values ​​.
g . Improving social sensitivity environmental and political .
h . The growing sense of respect social rights as rights

We need to have a location
UNDIP coincidence unit has had to think of the sea . There is also a faculty that handles ” Fisheries and Marine ” . Basing on the above subject mind , according to the author , UNDIP should already have made ​​the area ” Marine Tourism” . Central Java is ideal. Indeed there Karimun Jawa island , unfortunately do it not integral . And a number of islands that has not been worked on, perhaps UNDIP can ask or work pioneered marine tourism in Karimun Jawa island , as far as the making professionals .
It is worth noting , due to do ” special tourism” , we must consider the following matters .
• Bureau of the journey is also partially responsible for the preservation and conservation of financial
• If necessary activities not only to enjoy the beauty , originality , and uniqueness , but also led to the birth of collecting funds for the preservation of tourist destinations .
• Transport and accommodation are local , in the sense that instead of the international arm . Gratitude that accommodation , restaurants , etc. managed local community with the guidance of managers in order to create a good standard . ( Soetomo. WE , 2002)
If the above requirements have been understood then the location should be available is
• Cultivation Pattern
In these days , especially after entering the third millennium the actual global market has noted that special interest tourists ( special interest) high growth . According to TIES ( 2000) growth reached 10-30 % , while for general tourism is only 4 % . WTO in 1998 actually predicted that Indonesia could attract tourists is greater if special interest for tourism in the work on the more professional .
Basing this study it presents a challenge for us for how we manage areas of special interest tourism such as marine areas that we have.
1 . Productive age travelers
2 . 50 % were female travelers , which means that special interest tourism has shifted , no longer dominated by priya .
3 . They are educated , even 82 % are highly educated , thus quite clear market segment .
4 . They prefer to pair up
5 . Length of visit length
6 . The motivation of special interest, such as wild animals, breeding, diving, surfing, fishing, unique,etc.
7 . Looking for new experiences
Basing on the above matters the pattern for the cultivation of special interest tourism such as the Marine tourism the above matters should be considered because by observing these things then the manager will be creative looking for opportunities for the success of their business .
This is a bit of a challenge for anyone who will work on special interest tourism. Criteria should not be forgotten as well :
In addition to the above the carrying capacity should also be considered for the sake of good cultivation. Carrying capacity of primary concerning the facilities and infrastructure to the location, clean water, post office, health post, and the other carrying capacity especially prepared by the government .

• Conclusion
It seems like nature that as it has often other people look amazing but the owner considers normal. It is also evident that we who have the potential of a vast ocean special interest tourism but which utilizes less seas only a few that have worked well is Bunaken, Bali, others still focused on the potential of the land, while sea only as a byproduct. It is time , we pay attention to marine areas of special interest as a tourist attraction. The need for facilities for nautical tourism is not only expensive but also should be standard with professional service. This is a phenomenon that is probably why the cultivation of marine tourism we are not as fast as Hawaii.
According to the author it’s time  we raised marine tourism because we are a nation other than the marine also a large part of our territory is maritime. Diponegoro University as an institution of Higher education certainly able , because there carrying capacity. Hopefully be food for thought .

By : Soetomo. WE


What the meaning of fishing ground ?

Fishing ground or fishing area is a body of water where the fish can be targeted for arrest caught, but still within the limits of resource sustainability.

The purpose of the fish are looking for a particular area are :
– Choosing the appropriate environment
– Finding resources in food
– Finding the right place to spawn

Fish resources not only in the form of individual fish only, but includes other organisms such as :
All types of fish including other biota, including:
- Pisces
- Crustaceans
- Mollusca
- Echinodermata
- Amphibians
- Reptiles
- Mammalia
- Algae, and other aquatic biota

Indonesian marine characteristics:
– There is an area of ​​shallow seas (Sundaland and Sahul Exposure), and Deep oceans (the South China Sea, Flores Sea, Banda Sea).
– Basic waters there is a flat, sloping, and steep. Composed of sand, mud, or a mixture of both, coral, and rocks.
– It has a very diverse fish species.
– The potential of a large fishery resources, but not all utilized properly.

Fishing ground is influenced by:
- Temperature of water
- Salinity
- Ph (Power of Hydrogen)
- Brightness
- Current
- The depth of water
- Topography bottom waters
- The content of dissolved oxygen (DO) and food

The importance of Oceanographic Parameters
Very important oceanographic parameters were analyzed for the determination of fishing ground. Nontji (1987) stated that temperature is an oceanographic parameters have dominant influence on the lives of particular fish and marine resources in general. Most marine life is poikilometrik (body temperature affected the environment) so that the temperature is one very important factor in regulating the process of life and the spread of the organism (Nybakken, 1988).

Characteristics Fishing Ground :

  • The area must have a condition where the fish so easily come together in a group.
  • The area should be a place where it is easy to use fishing equipment for fishermen.
  • The area should be housed in a location that is economically valuable.

Selection of Fishing Ground
Initial assumptions about the environmental area is quite in accordance with the behavior of fish that are directed to the use of oceanographic and meteorological research data.

The initial assumption about the season and fishing area.
Selection of fishing areas economically valuable to consider carefully the distance from the base, schools of fish density, meteorological conditions, and so forth.
Mass distribution of water, as a result of the confluence of ocean currents distribution of water masses and propagate this will bring living organisms. Fluctuations in environmental conditions, may affect several things: distribution, migration, growth and reproduction of aquatic organisms, including fish. 

Good fishing ground:

1. Characteristic of fish that inhabit
- As sub-populations
- Age
- Size
- Term / long life
- The rate of growth

2. The number of individual fish
- The size of sub-populations
- The number of fish that comes to the fishing ground
- The number of schools of fish
- The level of individual density

3. Characteristic fishing ground
- The location / position
- The area and depth of water

4. Time
- Season
- Length of stay

Circumstances that favored by fish and other marine animals:
1. Areas with optimum state of physical factors (easily adaptable) with small fluctuations.
2. Area up welling of waters rich in nutrients and move up to the euphotic that many phytoplanktonnya.
3. Meeting and the summit area that is welling up kombiasi thermoclin in shallow waters.
4. Regional meeting of 2 different water masses, especially for migratory fish (Kuroshio and oyashio).
5. The area close to the sea floor of the building (coral reefs, topography produces a mixture of water layers above and below it, and the organism was carrying a fish food).
6. Regions with specific characteristics for the fish to stick to the egg (sea grass, buildings or shipwreck).

The area formed by the mixing of water that leads to the top. 

Formed due to heat flow and meeting the cold currents collide, resulting in the current direction up or down and then spread eddy formation. Upward movement of water mass is called surface divergence and reverse movement called surface convergence.

Factors Oceanography

Influence Factors oceanography (salinity) as an indicator of fishing ground. Salinity is the salt content of all ingredients are dissolved in 1,000 grams of sea water, assuming that all carbonate has been converted into oxide, all bromine and chlorine lOD replaced with equal and all organic substances undergo complete oxidation.

Collaboration Data
To estimate the accuracy of the fishing ground, which is necessary to collaborate on the data of acoustic, satellite remote sensing imagery and data oceanography.

Collaborative Measures Data
1. Step essentially by the method of remote sensing satellites, ex situ we have to find waters that have chlorophyll (plankton).
2. Then, analyze its relationship with oceanographic data (temperature, salinity and currents) were also obtained from satellites and oceanographic instruments that float on the meter.
3. Then the results of the analysis of data from the two instruments (satellites and Argo float) made estimates of fishing ground maps are up to date. Furthermore, the estimation map relayed to the fishing fleet. Armed with a map of the estimated fleet immediately to the location that had been estimated, and collaborate on the map with the data obtained with the acoustic echosounder in situ (directly) on the waters, and then made use of (catching) fish.

Regional classification Fishing:

A). Based Regional Operations.

1. Littoral Zone Fishing Ground
2. Coastal Fishing Ground
3. High Sea Fishing Ground
4. Island Waters Fishing Ground

B). Tools and Methods based on arrest

1. Fixed Trap Fishing Net Ground
2. Lift Net Fishing Ground
3. Purse Seine Fishing Ground
4. Net Trawl Fishing Ground
5. Gill Net Fishing Ground
6. Angling Fishing Ground

C). By Type Target Catching Fish

1. Sardine Fishing Ground
2. Mackerel Fishing Ground
3. Bonito Fishing Ground
4. Tuna Fishing Ground

D). Under The fish habitat.

1. Demersal Fishing Ground
2. Pelagic Fishing Ground
3. Shallow Fishing Ground

E). Based on the depth of the waters.

1. Shallow Sea Fishing Ground
2. Deep Sea Fishing Ground

F). By Name waters.

1. South China Sea Fishing Ground
2. Banda Sea Fishing Ground
3. Ocean Sea Fishing Ground
4. Arafura Sea Fishing Ground

G). Based on the location of its waters.

1. Sea Fishing Ground
2. River Fishing Ground
3. Lake Fishing Ground
4. Swamp Fishing Ground

Regional classification Fishing Tools and Methods Based on the arrest

1. Fixed Trap Fishing Net Ground
Coastal fishing ground to a depth of a few meters to a maximum of 80 m Fixed net ruaya placed in the area of ​​fish and fish will get caught in the nets.

2. Lift Net Fishing Ground
Shallow fishing ground with a weak current. Fish can be drawn into the net because of the bait or light. Regional classification Fishing Tools and Methods Based on the arrest

3. Purse Seine Fishing Ground
Fishing ground is expected to be concentrated and clustered fish close to the surface with a slow movement with the help of FADs. The fishing ground with a small stream and found no coral reefs or milestones below.

4. Net Trawl Fishing Ground
Fishing ground varies depending on the depth and the target species.

- Surface Trawling for pelagic fishing.
– Mid Water Trawl fishing in the mid-to near the bottom waters.
– Bottom Trawling for demersal fishing. Bottom Trawl fishing ground should be free from coral reefs and milestones.

5. Gill Net Fishing Ground

Fishing ground nets depends on the type and depth of the waters.
– Surface gill nets to catch pelagic fish. Drift gill nets to catch pelagic fish.
– Bottom gill net to catch demersal fish.
– Surounding / encircling gill net for catching pelagic fish.
– Gill net operated in waters with strong currents are not.

6. Angling Fishing Ground.

MDC-Ekspedisi Caretta VIII


Marine Diving Club (MDC), sebagai salah satu UKK (Unit Kegiatan Kemahasiswaan) di lingkungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang yang berkecimbung di dunia selam, terutama dibidang Scientific,Education, and Conservation secara konsisten telah berperan serta dalam upaya pemeliharaan ekositem terumbu karang di Indonesia. Sebelumnya pada bulan April 2013 telah berhasil melakukan Ekspedisi Caretta ke VII di Pulau Komodo yang bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Komodo.

1

Tak berhenti disitu saja, baru saja pada tanggal 4-18 November 2013 Marine Diving Club juga telah berhasil melakukan Ekspedisi Caretta yang ke VIII dengan mengirimkan 8 orang anggotanya ke Pulau Flores, Tawan Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung, Kab,Ngada,NTT. Ke delapan orang tersebut diantaranya:

1. Moch.Iqbal Herwata P. (Hemnygymnus_MDC_18) Selaku koordinator tim Ekspedisi Caretta VIII. Dia juga berperan sebagai ahli pendataan ikan (Fish Surveyor)
2. Zihni ihkamuddin (Hippocampus_MDC_18) Berperan sebagai photographer dan videographer dilapangan. Selain keahliannya mengambil gambar, dia juga ahli dalam pendataan ikan (fish surveyor) dan pendataan lamun (seagrass).
3. Ilham Panra (Pomacentrus_MDC_18) Dilapangan bertugas mengkoordinir transportasi dan akomodasi tim, selain itu juga ahli dalam pendataan invertebrata (invert surveyor)
4. Yudha Wira B.Sembiring (Neoglypidodon_MDC_18) Bertanggung jawab atas semua peralatan tim, menyiapkan dan menfasilitasi alat-alat yang akan digunakan tim, baik berupa alat penyelaman/scuba ataupun alat pendataan (survey). Sebagai scientific diver, dia ahli ndalam pendataan karang.
5. Siti Nurul Aini (Centropyge_MDC_18) Memiliki keahlian pendataan di 2 ekositem yang berbeda , selain bertugas melakukan pendataan karang (coral surveyor), dia juga mampu melakukan pendataan mangrove.
6. Sila Kartika (Pavia_MDC_19) Ahli dalam mengidentifikasi ikan (fish surveyor)
7. M.Iqbal (Gardinoseris_MDC_19) Ahli dalam mengidentifikasi karang (coral surveyor)
8. Frans Michael Kootaro (Platax_MDC_19) Ahli dalam mengidentifikasi invertebrata (invert surveyor)

Kegiatan Ekspedisi Caretta ke VIII merupakan hasil kerja sama Marine Diving Club (MDC) dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) wilayah kerja Nusa Tenggara TImur. Dimana BKSDA itu sendiri merupakan instansi yang berada dibawah Kementrian Kehutanan Republik Indonesia yang bertugas mengelola segala jenis sumber daya alam yang ada di wilayah Nusa Tenggara Timur, seperti pengelolaan terhadap Cagar Alam, Suaka Marga Satwan, Taman Nasional, Taman Wisata Alam Laut, dll. Bentuk kerjasama MDC dengan BKSDA wilayah kera Nusa Tenggara Timur adalah berupa pendataan pada 3 ekosistem pesisir dan laut, diantaranya: Ekosistem Terumbu Karang, Ekosistem Lamun, dan Ekosistem Mangrove. Dimana ketiga ekosistem ini memiliki keterkaitan yang erat terhadap keberlangsungan kehidupan di lingkungan pesisir dan laut. Apabila salah satu ekosistem telah rusak, maka dua ekositem lainnya secara tidak langsung akan terganggu.

Mawar 3

Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung, Kab,Ngada, Flores dipilih karena memiliki potensi wisata alam laut yang menjanjikan dengan kekayaan keragaman hayati yang unik dan langka. Keunikan tersebut dibuktikan dengan adanya mawar laut nan indah, kelelawar besar, serta hewan yang fenomenal yaitu komodo (Varianus Komodoensis). Banyak orang yang tahu kalau komodo hanya terdapat di Pulau Komodo saja, tapi hanya sedikit yang tahu kalau komodo juga ada di Tawan Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung, lebih tepatnya di Pulau Ontoloe (pulau terbesar di 17 Pualu Riung). Secara fisik, memang ada perbedaan antara komodo di Pulau Komodo dengan komodo yang ada di TWAL 17 Pulau Riung. Komodo di 17 Pulau Riung memiliki warna yang lebih mencolok dari pangkal kaki depan sampai ke ujung kepala. Warna yang sering ditemui adalah kehijau-hijauan,kuning,merah,dan kebiru-biruan diselingi bintik-bintik. Sementara dari segi ukurannya lebih kecil disbanding komodo di Pulau Komodo. Menurut pak Yosi (ahli dari BKSDA), perbedaan fisik tersebut disebabkan oleh faktor makanan dan tempat tinggal. Di 17 Pulau Riung, komodo memiliki ruang lingkup jelajah yang sempit, hanya terbatas pada Pulau Ontoloe yang mana pulau tersebut lebih kecil dibanding Pulau Komodo. Dengan keterbatasan ruang lingkup hidup, maka pasokan mangsa komodo pun semakin sedikit. Dengan keberagaman biota tersebut, tentu perlu adanya inventarisasi dan identifikasi guna menunjang data base keanekaragaman biota agar dapat terjaga dan dapat dikembangkan untuk wisata dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kegiatan inventarisasi dan identifikasi dibagi menjadi 3 segmen, segmen pertama pendataan ekosistem terumbu karang, segmen kedua pendataan ekosistem lamun, segmen ketiga adalah pendataan ekosistem mangrove. Untuk TWAL 17 Pulau Riung itu sendiri sebenarnya terdiri dari gugusan pulau yang berjumlah 24 pulau, namun jumlah yang dimasukkan ke dalam Taman Wisata Alam Laut 17 Pulau Riung yang dikelola BKSDA hanya sejumlah 17 pulau. Sementara yang didata oleh tim Ekspedisi Caretta VIII MDC berjumlah 12 site yang terdiri dari 11 pulau dan 1 tanjung. Ke 12 site tersebut tersebar merata disetiap bagian, mulai dari bagian timur, tengah, utara, dan barat. Pendataan ekosistem dilakukan dengan penyelaman pada kedalam 10 m dibawah permukaan laut. Dalam 1 hari, tim dapat melakukan penyelaman 3 site. Di setiap site ada beberapa hal yang didata, diantaranya karang, ikan, invertebrata, impact, dan dive site. Masing-masing ikon pendataan memiliki teknik pendataan yang berbeda-beda, namun tetap mengacu pada transek yang telah dipasang sebelumnya. Untuk transek sendiri dibagi 3

DSCN2537

bagian, 0-50m, 50m – 100m, 100m-150m.

Untuk pendataan lamun tim juga menggunakan transek yang dibentangkan dari 0m

hingga 50m dengan 3 kali pengulangan. Penghitungan dengan menempelkan transek kuadran dengan ukuran 50cm x 50cm pada transek yang telah dibentangkan tadi dengan jarak interval 5 m. La

mun yang diidentifikasi sampai pada tingkat genus serta sejumlah biota yang masuk dalam transe

Pendataan mangrove juga menggunakan transek, namun berbeda dengan transek karang ataupun lamun. Transek yang digunakan pada mangrove berupa persegi panjang yang terdiri atas 3 ukuran yang berbeda-beda, yaitu 10m x 5m, 5m x 3m dan 2m x 1m. Sama halnya dengan pendataan lamun, pendataan mangrove juga dilihat dari pohon yang masuk dalam transek.k kuadran. Berbeda dengan pendataan ekosistem terumbu karang yang memiliki 12 site pendataan, pendataan lamun hanya dilakukan pada satu site saja, yaitu di Pulau Ontoloe. Karena menurut perkiraan di pulau ini masih memilki padang lamun dengan kondisi paling baik dibandingkan pulau-pulau lainnya.

Dari keseluruhan pendataan yang dilakukan pada ekositem yang ada dipesisir dan laut pada Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung dapat dilihat bahwa ekosistemnya masih terjaga secara baik berkat perhatian masyarakat sekitar yang telah menjaga dan tentunya dengan dukungan kebijakan dari pemerintah. Apabila hal tersebut konsiten dilakukan, bukan hal mustahil 10 sampai 15 tahun ke depan ekosistem terumbu karang,lamun dan mangrove akan meningkat pesat kearah yang lebih baik. Sehingga potensi wisata yang dahulunya dimiliki oleh daerah ini dapat dikembalikan seperti sediakala sehingga sejahteraan masyarakat pesisir akan meningkat dengan konsep ecotourism.

Pomacentrus 18

FISHING GROUND DAN ESTIMASI PENANGKAPAN


FISHING GROUND DAN ESTIMASI PENANGKAPAN

 

Pengertian fishing ground.

Fishing ground atau daerah penangkapan ikan adalah suatu perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan daharapkan dapat tertangkap secara maksimal, tetapi masih dalam batas kelestarian sumberdaya.

Tujuan ikan mencari suatu daerah tertentu adalah :

-           Memilih lingkungan hidup yang sesuai.

-           Mencari suber makanan.

-           Mencari tempat yang tepat untuk memijah

Sumber daya ikan tidak hanya berupa individu ikan saja, melainkan mencakup organism lainnya berupa:
Semua jenis ikan termasuk biota perairan lainnya, meliputi:

- Pisces

- Crustacea

- Mollusca

- Echinodermata

- Amphibia

- Reptilia

- Mammalia

- Algae

- Dan biota perairan lainnya

Karakteristik laut Indonesia:

-          Ada daerah lautan dangkal (Paparan Sunda dan Paparan Sahul), dan lautan yang dalam (Laut Cina Selatan, Laut Flores, Laut Banda).

-          Dasar perairan ada yang datar, landai, dan curam. Terdiri dari pasir, lumpur, atau campuran keduanya, karang, dan batu.

-          Memiliki jenis ikan yang sangat beragam.

-          Potensi sumberdaya perikanan besar, tetapi belum semua termanfaatkan dengan baik.

Fishing ground dipengaruhi oleh :

- Temperatur air

- Salinitas

- pH

- Kecerahan

- Arus

- Kedalaman perairan

- Topografi dasar perairan

- Kandungan Oksigen terlarut dan makanan

  • Pentingnya Parameter Oseanografi

Parameter oseanografi sangat penting dianalisis untuk penentuan fishing ground. Nontji (1987) menyatakan suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya hayati laut pada umumnya.

Sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme (Nybakken, 1988).

  • Karakteristik Fishing Ground

Daerah tersebut harus memiliki kondisi dimana ikan dengan mudahnya datang bersama-sama dalam kelompoknya.

Daerah tersebut harus merupakan tempat dimana mudah menggunakan peralatan penangkapan ikan bagi nelayan.

Daerah tersebut harus bertempat di lokasi yang bernilai ekonomis.

  • Pemilihan Fishing Ground

Asumsi awal tentang area lingkungan yang cukup sesuai dengan tingkah laku ikan yang diarahkan dengan menggunakan data riset oseanografi dan meteorologi.

Asumsi awal tentang musim dan daerah penangkapan ikan.

Pemilihan daerah penangkapan ikan yang bernilai ekonomis dengan mempertimbangkan dengan seksama jarak dari pangkalan, kepadatan gerombolan ikan, kondisi meteorologi, dan lain sebagainya.

Fishing ground dapat ditandai dengan :

  • Distribusi massa air, sebagai akibat adanya daerah pertemuan arus laut Distribusi massa air ini akan membawa dan menyebarkan organisme hidup.
  • Fluktuasi keadaan lingkungan, dapat mempengaruhi beberapa hal : distribusi, migrasi, pertumbuhan dan reproduksi organisme air termasuk ikan.

Fishing ground yang baik:

1.Karakteristik dari ikan yang menghuninya

- Seperti sub populasi

- Umur

- Ukuran

- Jangka waktu/lama kehidupan

- Tingkat pertumbuhan

2. Jumlah individu ikan

- Ukuran sub populasi

- Jumlah ikan yang datang ke fishing ground

- Jumlah gerombolan ikan

- Tingkat kepadatan individu

3.Karakteristik fishing ground

- Letak/posisi

- Wilayah dan kedalaman air

4.Waktu

- Musim

- Lamanya tinggal

Keadaan yang disukai oleh ikan dan hewan laut lainnya :

1.  Daerah dengan keadaan faktor fisik optimum (mudah beradaptasi) dengan fluktuasi yang kecil.

2.  Daerah up welling dari perairan yang dalam dan kaya nutrien yang bergerak ke atas ke daerah euphotic yang banyak phytoplanktonnya.

3. Daerah pertemuan dan puncak up welling yang merupakan kombiasi thermoclin pada perairan yang dangkal.

4. Daerah pertemuan 2 massa air yang berbeda, khusus bagi ikan bermigrasi (kuroshio dan oyashio).

5. Daerah yang dekat dengan bangunan dasar laut (terumbu karang, topografi yang menghasilkan campuran lapisan air atas dan bawahnya serta organisme yang dibawanya merupakan makanan ikan).

6. Daerah yang mempunyai ciri spesifik bagi ikan untuk menempel telurnya (rumput laut, bangunan-bangunan atau kapal karam).

  • Klasifikasi fishing ground
    berdasarkan struktur oseanografi
  1. Daerah pertemuan 2 arus. Terbentuk karena pertemuan 2 arus sebagai akibat perbedaan massa air (arus kuroshio dan oyashio).
  1. Daerah yang terbentuk karena mempunyai temperatur optimum.

Terbentuk karena adanya pertemuan massa air yang berbeda temperatur, sehingga menjadikan temperatur optimum.

  1. Daerah yang terbentuk karena percampuran air yang mengarah ke atas.

Terbentuk karena pertemuan arus panas dan arus dingin yang berbenturan, mengakibatkan arah arus ke atas atau ke bawah dan kemudian menyebar membentuk formasi eddy. Gerakan massa air ke atas tersebut disebut surface divergence dan gerakan sebaliknya disebut surface convergence.

Faktor Oceanografi

  • Pengaruh Faktor Oceanografi (Salinitas) sebagai indikator  fishing ground

Salinitas adalah kadar garam seluruh zat yang larut dalam 1.000 gram air laut, dengan asumsi bahwa seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida, semua brom dan lod diganti dengan khlor yang setara dan semua zat organik mengalami oksidasi sempurna.

  • Kolaborasi Data

Untuk keakuratan estimasi fishing ground, yang perlu dilakukan mengkolaborasikan data acoustic, citra satelit remote sensing dan data oseanograifi.

  • Langkah-langkah Kolaborasi Data

1.  Langkah dasarnya dengan metode remote sensing satelit, secara ex situ kita harus menemukan perairan yang memiliki klorofil (plankton).

2.  Kemudian, menganalisis hubungannya dengan data oseanografi (suhu, salinitas dan arus) yang juga didapatkan dari satelit dan instrumen oseanografi yaitu argo float.

3. Kemudian hasil analisis data dari dua instrumen tersebut (satelit dan argo float) dibuat peta estimasi fishing ground yang up to date. Selanjutnya peta estimasi tersebut direlay ke armada penangkapan. Berbekal peta estimasi tersebut armada segera menuju lokasi yang telah diestimasi, lalu mengkolaborasikan peta tersebut dengan data acoustic yang didapatkan dengan echosounder secara in situ (langsung) pada perairan, kemudian dilakukan pemanfaatan (penangkapan) ikan.

 

Klasifikasi Daerah Penangkapan Ikan :

A).  Berdasarkan Daerah Operasinya.

1. Littoral Zone Fishing Ground

2. Coastal Fishing Ground

3. High Sea Fishing Ground

4. Island Waters Fishing Ground

B).  Berdasarkan Alat dan Metode Penangkapannya

1. Fixed Trap Net Fishing Ground

2. Lift Net Fishing Ground

3. Purse Seine Fishing Ground

4. Trawl Net Fishing Ground

5. Gill Net Fishing Ground

6. Angling Fishing Ground

C).  Berdasarkan Jenis Ikan Target Penangkapan

1. Sardine Fishing Ground

2. Mackerel Fishing Ground

3. Bonito Fishing Ground

4. Tuna Fishing Ground

D).  Berdasarkan Habitat Ikannya.

1. Demersal Fishing Ground

2. Pelagic Fishing Ground

3. Shallow Fishing Ground

E).  Berdasarkan Kedalaman Perairannya.

1. Shallow Sea Fishing Ground

2. Deep Sea Fishing Ground

F).  Berdasarkan Nama Perairannya.

1. Cina Selatan Sea Fishing Ground

2. Banda Sea Fishing Ground

3. Samudera Sea Fishing Ground

4. Arafura Sea Fishing Ground

G).  Berdasarkan Letak Perairannya.

1. Laut Fishing Ground

2. Sungai Fishing Ground

3. Danau Fishing Ground

4. Rawa Fishing Ground

Klasifikasi Daerah Penangkapan Ikan Berdasarkan Alat dan Metode Penangakapan

1.  Fixed Trap Net Fishing Ground

Fishing ground pantai dengan kedalaman beberapa meter sampai maksimal 80 m Fixed net ditempatkan di daerah ruaya ikan dan ikan akan terjebak di jaring.

2.  Lift Net Fishing Ground

Fishing ground dangkal dengan arus lemah. Ikan dapat ditarik ke jaring karena faktor umpan atau cahaya.

Klasifikasi Daerah Penangkapan Ikan Berdasarkan Alat dan Metode Penangakapan

3.  Purse Seine Fishing Ground

Fishing ground ini mengharapkan ikan dapat terkonsentrasi dan bergerombol dekat dengan permukaan dengan gerakannya lamban dengan bantuan rumpon. Fishing ground ini dengan arus kecil serta tidak ditemukan terumbu karang atau tonggak-tonggak di bawahnya.

4. Trawl Net Fishing Ground

Fishing ground ini bervariasi tergantung dari kedalaman dan spesies target.

- Surface Trawl untuk menangkap ikan pelagic.

- Mid Water Trawl untuk menangkap ikan di pertengahan sampai mendekati dasar perairan.

- Bottom Trawl untuk menangkap ikan demersal. Fishing ground Bottom Trawl          harus bebas dari terumbu karang dan tonggak-tonggak.

5. Gill Net Fishing Ground

Fishing ground ini tergantung dari tipe jaring dan kedalaman perairan.

- Surface gill net untuk menangkap ikan pelagic. Drift gill net untuk            menangkap  ikan pelagic.

- Bottom gill net untuk menangkap ikan demersal.

- Surounding / Encircling gill net untuk menangkap ikan pelagic.

- Gill net dioperasikan pada perairan dengan arus yang tidak kuat.

6. Angling Fishing Ground.

Jenisnya sangat bervariasi tergantung dari sasaran penangkapan. Fishing ground dekat terumbu karang, kedalaman cukup, arus tidak kuat.

1. JARING INSANG (GILL NET)

KRITERIA FISHING GROUND JARING INSANG (GILL NET)

ü  Jaring insang harus dapat berdiri tegakpada saat dioperasikan oleh 2 gaya berlawanan gaya keatas oleh pelampung dan gaya ke bawah oleh pemberat.

ü  Perairan dengan arus tidak terlalu kuat.

ü  Pada perairan tersebut terdapat ikan yang menjadi sasaran dalam jumlah memadai.

ü  Perairan tersebut  aman bagi operasonal jaring.

Di Indonesia Gill Net biasanya di gunakan di daerah-daerah berikut :

-          Perairan laut Jawa (kedalaman sekitar 20-40 m).

-          Perairan pantai Timur Sumatera (kedalaman sekitar 30 m).

-          Perairan pantai Barat Kalimantan (kedalaman sekitar 20-40 m).

-          Perairan pantai Selatan Kalimantan (kedalaman sekitar 30 m).

-          Perairan pantai Timur Kalimantan (kedalaman sekitar 30 m).

-          Perairan pantai Utara Kepulauan NTB (kedalaman sekitar 30 m).

2. PUKAT CINCIN (PURSE SEINE)

KRITERIA FISHING GROUND PUKAT CINCIN (PURSE SEINE)

ü  Perairan tersebut tidak memiliki arus yang terlalu kuat dan tidak terdapat arus atas dan bawah berlawanan arah.

ü  Kedalaman perairan hendaknya <100 m.

ü  Pada perairan tersebut terdapat ikan yang menjadi sasaran dalam jumlah memadai.

ü  Aman bagi pengoperasian alat tangkap.

Di Indonesia Gill Net biasanya di gunakan di daerah-daerah berikut :

-          Perairan sebelah Utara Tegal (kedalaman < 100 m).

-          Perairan sebelah Utara Pekalongan (kedalaman < 100 m).

-          Perairan sekitar kepulauan Karimunjawa (kedalaman < 100 m).

-          Perairan sekitar P. Bawean (kedalaman sekitar 100 m).

-          Perairan sekitar P. Natuna (kedalaman sekitar 100 m).

-          Perairan sekitar kepulauan Masalembo (kedalaman 100 m).

-          Perairan sekitar kepulauan Matasiri (kedalaman 100 m).

3. RAWAI TUNA (TUNA LONG LINE)

KRITERIA FISHING GROUND RAWAI TUNA (TUNA LONG LINE)

ü  Perairan dalam.

ü  Pada perairan tersebut terdapat ikan yang menjadi sasaran dalam jumlah memadai (ikan pelagis).

ü  Aman bagi pengoperasian alat tangkap.

Di Indonesia Gill Net biasanya di gunakan di daerah-daerah berikut :

-          Perairan Selatan P. Jawa

-          Samudera Hindia sebelah Barat P. Sumatera.

-          Perairan sekitar Selat Bali.

-          Perairan Selatan P. Bali.

-          Perairan Selatan Kepulauan NTT.

-          Perairan Utara Halmahera.

-          Perairan Laut Banda.

-          Perairan Laut Sulawesi.

-          Perairan Utara Irian Jaya.

Contoh Peta Potensi Fishing Ground

BAHAN ORGANIK DALAM AIR LAUT


BAHAN ORGANIK DALAM AIR LAUT

 

0leh  : Ir. Ria Azizah TN., MSi.

 

  1. I.         PENDAHULUAN

 

Bahan organik dalam air laut dapat dibagi atas dua bagian yaitu :

 

1. Bahan organik terlarut yang berukuran < 0.5 m.

2. Bahan organik tidak terlarut yang berukuran > 0.5 m.

 

Jumlah bahan organik terlarut dalam air laut biasanya melebihi rata-rata bahan organik tidak terlarut.

 

Hanya berkisar 1/5 bahan organik tidak terlarut terdiri dari sel hidup.

Semua bahan organik ini dihasilkan oleh organisme hidup melalui proses metabolisme dan hasil pembusukan.

 

Adapun peranan bahan organik di dalam ekologi laut adalah sebagai berikut :

 

  1. Sumber energi (makanan)
  2. Sumber bahan keperluan bakteri, tumbuhan maupun hewan
  3. Sumber vitamin
  4. Sebagai zat yang dapat mempercepat dan menghambat pertumbuhan sehingga memiliki peranan penting dalam mengatur kehidupan fitoplankton di laut.

 

II. BAHAN ORGANIK TERLARUT DALAM AIR LAUT.

 

  • Bahan organik karbon berukuran 0,3 – 3 mgC/l pada perairan pantai, ditemukan sebagai hasil peningkatan aktivitas fitoplankton dan polusi dari daratan.

 

  • Metode penentuan karbon organik, ditemukan oleh Menzel dan Vaccaro (1964)dalam Riley dan Chester (1971) dengan menyaring sampel, dipindahkan ke sebuah ampul dan diacidified sparging dengan uap udara bersih untuk memisahkan karbondioksida yang bergabung dengan keseimbangan asam karbonik.

 

Sampel ini dihilangkan dengan Potasium Peroksidisulfat (K2S2O8) lalu ampul ditutup. Selanjutnya dipanaskan dengan suhu 130°C dalam sebuah autoclave selama 1 jam. Setelah dingin autoclave dibuka dan karbondioksida terbentuk oleh oksidasi dari bahan organik yang diubah dengan helium atau nitrogen, lalu diukur dengan alat ukur yang terbuat dari infra red absorption atau dengan absorption chromatography.

 

 

-     Bahan organik nitrogen.

 

Penentuan bahan organik nitrogen terlarut (5 – 300 gN/l) dikemukakan oleh Strikland dan Persons (1968). Bahan organik nitrogen dioksidasi menjadi nitrit+ oleh penyinaran yang bersumber dari radiasi ultra violet. Nitrat selanjutnya direduksi ke nitrit menggunakan cadmium reduktor column sehingga total nitratnitrogen dapat ditentukan.

 

Bahan organik terlarut dalam air laut berasal dari empat sumber utama, yaitu :

 

  • Daratan, Bahan organik terlarut dari daratan diangkut ke laut melalui angin dan sungai.

 

Bahan organik terlarut yang berasal dari air sungai, bisa mencapai 20 mgC/l, terutama berasal dari pelepasan humic material dan hasil penguraian dari buah buahan yang jatuh di tanah.

 

Penambahan bahan organik secara alami dalam bentuk sewage (kotoran) dan buangan industri. Sebagian besar sudah siap dioksidasi dan segera membusuk karena bakteri dalam air laut. Namun dalam batasan badan air, seperti estuarin, kebutuhan oksigen secara biologi tidak terpenuhi, sehingga sering terjadi kondisi anoksik.

 

  • Penguraian organisme mati oleh bakteri

 

Ada dua mekanisme penguraian organisme mati yaitu secara autolisis dan bakterial. Di alam kedua mekanisme ini bekerja secara bersamaan. Tingkat penguraiannya tergantung pada kondisi kematian serta  tersedianya enzim dan bakteri yang diperlukan. Dalam proses autolisis, reaksi penguraian terjadi karena adanya enzim di dalam sel dan hasilnya selanjutnya akan dilepaskan ke dalam perairan.

 

Menurut Johanes (1968) dalam Riley dan Chester (1971), ekresi dari mikroorganisme seperti protozoa merupakan sumber penting dari bahan organik karbon. Proses pelepasan nitrogen dan fospor dari organisme mati dalam air laut terjadi dengan cepat. Waksman, et al (1938) dalam Riley dan Chester (1971) menemukan bahwa setengah dari nitrogen yang ada dalam zooplankton mati, diubah menjadi amonia dalam waktu 2 minggu dan fospat dilepaskan dengan cepat.

 

Skopintsev (1949) dalam Riley dan Chester (1971) menyatakan bahwa 70 % organik karbon tidak terlarut, di dalam kultur alga mati akan dioksidasi menjadi karbondioksida (CO2) dan setelah enam bulan ditemukan sekitar 5% diubah dalam bahan organik terlarut.

 

  • Hasil metabolisme alga terutama fitoplankton.

Hasil fotosintesis alga melepas sejumlah bahan organik ke dalam badan air. Produksi ini penting sebagai sumber energi organisme laut lainnya dan berperan dalam kontrol ekologi. Asam amino dan karbohidrat merupakan bahan yang dikeluarkan secara dominan oleh spesies khusus seperti Olisthodiscus sp (Hellebust, 1965 dalam Riley dan Chester 1971).

 

  • Eksresi zooplanton dan binatang laut lainnya.

Eksresi zooplankton dan binatang laut lainnya menjadi sumber penting bahan organik terlarut di laut. Bahan-Bahan yang dikenal secara prinsip adalah Nitrogenous seperti urea, purines (allantoin dan asam uric), trimethyl amine oxide dan asam amin, trimethyl amine oxide dan asam amino (glycine, taurine dan alanine)

 

2.1. Sifat Bahan Organik Terlarut dalam Air Laut

 

Sebagian besar bahan organik terlarut dalam air laut terdiri atas material yang kompleks dan sangat tahan terhadap penguraian bakteri. Secara lebih jelas konsentrasi representatif beberapa bahan organik karbon terlarut di permukaan air laut dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

 

Tabel 1.  Konsentrasi Representatif Bahan Organik Karbon

               Terlarut di Permukaan Air Laut

 

No.

Bahan Organik Konsentrasi (μg/l) Lokasi

1

Methane 1 Trop Atlantic

2

Paraffinic Hidrocarbons 400 South Pasific

3

Pristane (2,6,10,14-Tetramethyl Pentadecane) - Teluk cape Cod

4

Pentoses

 

0.5 Pacific of California

5

Hexoses 14-36 Pacific of california

6

Malic Acid 300 AtlanticCoast

7

Citric Acid 140 AtlanticCoast

8

Triglecerydes + Fatty Acid 200 South Pacific

9

Amino Acid 10-25 Irish Sea

10

Vitamin B12 0-0.01 10-25 Various

11

Thiamine (Vitamin B1) 0.021 Long Island Sound

12

Biotine 0.01 G. of Mexico

13

Urea 0-80 English Channel

14

Adenine 100-1000 G. of Mexico

15

Uracil 300 G.   of Mexico

16

p-Hydroxy-Benzoic Acid 1-3 Pacific of california

17

Vannilic Acid 1-3 Pacific of california

18

Syringic Acid 1-3 Pacific of california

 

 

2.2. Efek Ekologi Material Organik Terlarut

 

Kualitas air laut dikatakan baik atau buruk tergantung pada produktivitasnya. Kondisi ini ditentukan oleh keberadaan mikro nutrien anorganik khususnya nitrogen dan fosfat. Material organik terlarut tidak hanya sebagai sumber energi tetapi juga sumber senyawa organik esensial yang tidak dapat disintesa oleh organisme tersebut.

 

Banyak zat yang dikeluarkan oleh kehidupan air laut sebagai ectocrines yang mempercepat atau memperlambat pertumbuhan. Prakash dan Rashid (1968) dalam Riley dan Chester (1971) menyatakan bahwa pertumbuhan didukung oleh banyaknya humic acid yang secara ekologi penting dalam perairan pantai.

 

Penghambat pertumbuhan dapat ditemukan dalam media kultur antara antibiotik dan racun. Zat racun dikeluarkan oleh dinoflagellata seperti Gynodinium breze dan Gonyoulax polyhedra yang dapat menyebabkan “ red tide”. Zat polifenol dihasilkan oleh alga coklat menghambat pertumbuhan beberapa spesies dari alga unicellular. Zat ini penting karena secara ekologi menekan pertumbuhan epiphytes.

 

2.3. Distribusi Organik Karbon Terlarut dalam Air Laut

 

Hampir seluruh organik karbon terlarut dalam air laut berasal dari karbondioksida yang dihasilkan oleh fitoplankton.

Konsentrasinya tergantung pada keseimbangan antara rata-rata organik karbon terlarut yang dibentuk oleh hasil pembusukan, eksresi dan rata-rata hasil penguraian atau pemanfaatannya.

 

Libes (1971) menyatakan distribusi dissolved organic matter, particulate organic matter dan organik karbon erat hubungannya dengan produktivitas primer.

 

Produktivitas primer sangat tinggi di daerah pantai dan rendah pada daerah laut terbuka.

 

Konsentrasi bahan organik berdasarkan variasi musim dan kedalaman adalah sebagai berikut.

 

2.3.1. Variasi Menurut Musim

 

a. Terjadi hanya pada daerah yang dipengaruhi musim  (North sea).

 

b. Musim semi dan awal musim panas merupakan konsentrasi tertinggi (Ca 1,8 mg/ l).

 

c.  Musim panas konsentrasi menurun.

 

d. Musim gugur – awal musim semi, konsentrasi sedikit menurun

 

 

 

 

 

2.3.2. Variasi Menurut Kedalaman

 

a) Permukaan,

 

Konsentrasi bahan organik karbon terlarut dan nitrogen paling tinggi.

 

b) Bagian bawah zona eufotik,

 

Konsentrasi mulai menurun dengan meningkatnya kedalaman dan terdapat perbedaan antara satu tempat dengan tempat lainnya tergantung pada produktivitas, ketersediaan heterotrof dan kondisi hidrografik. Pada kedalaman lebih dari 100 meter konsentrasinya masih relatif konstan.

 

c) Pada perairan dalam,

 

Kandungan bahan organik karbon terlarut terlihat kecil tetapi signifikan dan berbeda menurut kedalaman. Perbedaan konsentrasi organik terlarut dengan nitrogen pada permukaan perairan sekitar 100 : 15 sampai 100 : 25.

 

  1. II.    BAHAN ORGANIK TIDAK TERLARUT DALAM AIR LAUT

 

Bahan organik tidak terlarut dalam air laut berukuran lebih besar dari 0,5 μm. Pada lapisan permukaan air laut material organik tak terlarut ini berupa detritus dan fitoplankton. Pada zona eufotik konsentrasinya lebih tinggi dari lapoisan di bawahnya.

Bahan organik tak terlarut ini berfungsi menyediakan makanan untuk organisme pada beberapa tingkatan tropik.

3.1. Sumber Bahan Organik Tidak Terlarut dalam Air Laut

 

  • Di air sungai (4,2 – 109 gC/ l) berukuran lebih kecil dari rata-rata produksi primer di laut ( 4 – 1016 gC/ l).

 

  • Sebagian besar particulate organic matter dilaut dihasilkan oleh beberapa organisme penghasil utama seperti fitoplankton, makroalga dan bakteri kemoautotrofik. Produksi utama ini dihasilkan oleh fotoautotrofik nanoplankton (berdiameter 2,0 – 20 μm).

 

  • Sekitar 10 % dihasilkan dari tanaman dalam bentuk senyawa, berat molekulnya ringan seperti asam amino, asam trikarboksilik. Hasil ini dengan cepat dikonsumsi oleh bakteri.

 

  • Hasil agregasi dan pengendapan dissolved organic matter dari laut.

 

  • Pada subsurface dalam waktu tertentu butir-butir fecal zooplankton merupakan komponen yang terbesar dari bahan organik tak terlarut.

 

 

 

 

 

 

3.2. Perbedaan Secara Ekologi dan Sifat Bahan Organik Partikulat.

 

3.2.1. Daerah eufotik.

 

Bahan organik partikulat di daerah eufotik terdiri dari fitoplankton, bakteri dan detritus. Pertumbuhannya lebih baik dengan percampuran dari dua atau lebih spesies dibandingkan satu spesies. Pada kondisi biasa, diatom mungkin dapat digunakan sebagai makanan pokok kopepoda (Beklemistur, 1954 dalam Riley dan Chester, 1971).

 

Pada saat fitoplankton melimpah, zooplankton mengkonsumsi lebih banyak fitoplankton daripada diassimilasi (Beklemishev, 1962 dalam Riley dan Chester, 1971). Saat fitoplankton melimpah detritus berfungsi hanya sebagai pelengkap makanan zooplankton. Namun disaat zooplankton kurang, detritus merupakan bagian terbesar makanan binatang di laut (Harvey, 1950., Fox, 1950., Roley, 1959 dalam Riley dan Chester, 1971). Pada perairan yang dangkal, banyak detritus sampai ke dasar laut dimana detritus itu dicerna oleh organisme dasar.

 

Dekomposisi bakteri menjadi mekanisme dasar bagi detritus, bakteri menggunakan bahan partikulate untuk suplay energi dan material bagi protoplasma. Selama proses respirasi dan metabolic, CO2, amonia dan ion fosfat dilepaskan ke dalam air.

 

 

 

3.2.2. Daerah Perairan Dalam.

 

Meskipun banyak detritus di daerah eufotik berukuran relatif besar karena diuraikan oleh bakteri sehingga sangat sedikit yang mencapai kedalaman 200 – 300 meter (Fox, 1950 dalam Riley dan Chester, 1971). Sebagian besar dikonsumsi oleh filter feeder perairan dalam yang memiliki nilai gizi (Harvey, 1955 dalam Riley dan Chester, 1971) dan tenggelam sampai dasar lautan bergabung menjadi sedimen yang rata-rata mengandung Ca 0,3% organik karbon. Oleh sebab itu perlu mencari alternatif sumber makanan bagi binatang laut tersebut. Sumber makanan kemungkinan dipenuhi oleh marine aggregates yang kaya protein dan nutrisi. Gordon (1970) dalam Riley dan Chester (1971) memperlihatkan bahwa organik karbon tak terlarut yang terdapat di laut dalam di Atlantik dapat dihidrolisis oleh enzim seperti trypsin dan a–amylase yang terjadi di zooplankton. Bagian tersebut menjadi sumber makanan penting bagi filter feeder di daerah Batipelagik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RINGKASAN

 

Jumlah bahan organik terlarut dalam air laut biasanya melebihi rata-rata bahan organik tidak terlarut. Semua bahan organik ini dihasilkan oleh organisme hidup melalui proses metabolisme dan hasil pembusukan. Ekresi dari mikroorganisme seperti protozoa merupakan sumber yang penting dari bahan organik karbon.

 

Proses pelepasan nitrogen dan fospor dari organisme mati dalam air laut terjadi dengan cepat.

 

Hampir seluruh organik karbon terlarut dalam air laut berasal dari karbondioksida yang dihasilkan oleh fitoplankton. Konsentrasinya tergantung pada keseimbangan antara organik karbon terlarut yang dibentuk oleh hasil pembusukan, eksresi dan hasil penguraian atau pemanfaatannya.

 

Bahan organik tidak terlarut dalam air laut berukuran lebih besar dari 0,5 μm. Pada lapisan permukaan air laut material organik tak terlarut ini berupa detritus dan fitoplankton. Pada zona eufotik konsentrasinya lebih tinggi dari lapisan di bawahnya. Bahan organik tak terlarut ini berfungsi menyediakan makanan untuk organisme pada beberapa tingkatan tropik.

 

Organik karbon tak terlarut yang terdapat di laut dalam di Atlantik dapat dihidrolisis oleh enzim seperti trypsin dan a–amylase yang terjadi di zooplankton. Bagian tersebut menjadi sumber makanan penting bagi filter feeder di daerah Batipelagik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Libes, S.M. 1971. An Introduction to Marine Biogeochemistry. Department of Marine Science. University of South Carolina-Coastal Carolina College Conway. Jhon Wiley & Sons, Inc.

 

Riley, J.P and Chester, R. 1971. Introduction to Marine Chemistry. Department of Oceanography the University of Liverpool, England. Academic Press, London and New York.

 

Riley, J.P and Chester, 1975. Chemmical Oceanographyestry. Academic Press, London and San Francisco.

 

Wassman, P. 1993. Regulation of Vertical Export of Particulate Organic Matter from the Euphotic Zone by Planktonic Heterothrophs in Eutrophicated Aquatic Environments. Marine Pollution Bulkletin, Volume 26 No. 11, Pergamon Press Ltd.

PENCEMARAN DETERGEN


PENCEMARAN DETERGENT

0leh  : Ir. Ria Azizah TN., MSi.

  PENDAHULUAN

Pemakaian detergent akhir-akhir ini meningkat dengan pesat sejalan dengan laju pertumbuhan industri dan populasi penduduk.

Detergent digunakan sebagai pembersih, baik untuk pencucian peralatan (cleaning) di industri-industri maupun rumah tangga.

Detergent yang masih banyak dan dominant digunakan di Indonesia adalah jenis Dodecyl  Benzen Sulfat (DBS) Based yang mempunyai zat yang sangat sulit terdegradasi (terurai) secara biologis (non biodegradable).

Formulasi detergent jenis ini terdiri dari komponen utama Dodecyl Benzen Sulfonat dan senyawa Polyphospat.

Dampak yang ditimbulkan oleh pemakaian formula deterjen tersebut apabila dibuang tanpa diolah terlebih dahulu adalah penurunan kualitas perairan.

Hal ini disebabkan Alkyl Benzen Sulfonat (ABS) yang sulit terurai dan buih (foam) dari senyawa polyphosphat yang berlebih, sehingga dapat menggganggu proses pelarutan oksigen (O2) ke dalam air dan kesuburan yang berlebih (eutrophycation) di perairan.

Umumnya komponen utama penyusun detergen adalah Natrium Dodecyl Benzen Sulfanat (NaDBS) dan Sodium Tri Polyphosphat (STPP) yang bersifat sangat sulit terdegradasi secara alamiah oleh perairan.

Akan tetapi senyawa NaDBS dan STPP dapat membentuk endapan dengan logam-logam alkali tanah dan logam-logam transisi.

Belum banyak usaha untuk menangani pencemaran perairan yang disebabkan oleh detergent di Indonesia.

Di negara maju usaha untuk menangani pencemaran detergent telah dilakukan dengan mensubtitusi komponen-komponen utama formula detergent dengan bahan bersifat biodegradable, yaitu dengan mengganti rantai bercabang dari Alkyl Benzen Sulfonat (ABS) menjadi rantai lurus Linier Alkyl Sulfonat (LAS). Selain itu senyawa fosfat diganti dengan senyawa non fosfat yang harganya relatif jauh lebih mahal seperti zeolit.

Pengertian

Detergent adalah bahan atau senyawa yang mampu meningkatkan daya cuci atau daya pembersih air terhadap benda padat.

Disamping itu, dikenal pula detergent bukan cairan (nonaquesus detergent), yaitu detergent yang mampu meningkatkan daya pembersih pelarut-pelarut organik (organik solvent).

Komposisi Kimiawi

Detergent (Syntetic detergent / syndet) mempunyai komposisi yang bervariasi, tergantung kepada dan untuk apa detergent digunakan.

Detergent umumnya digunakan sebagai bahan pencuci, umumnya terbentuk dari beberapa bahan dasar, yaitu :

  1. Surfactant Active Agent atau Surfactant, yaitu bahan/senyawa yang sangat besar kemampuannya untuk menurunkan permukaan (molekul-molekul) air. Pengaruh (sifat) fisik ini sangat menentukan nilai guna detergent.
  1. Builder or Binder, umumnya adalah garam-garam inorganik atau garam-garam alkalis yang berfungsi sebagai pembangun atau pengikat senyawa detergent dan meningkatkan daya pembersih surfactan, umumnya Binder adalah „bukan“ atau „tidak bersifat“ surfactans.
  1. Auxilary Components, yaitu bahan/senyawa tambahan yang berfungsi  Untuk meningkatkan nilai guna detergent.

Sabun atau Soap, menurut nilai gunanya adalah detergent alami (natural detergent); terbuat dari senyawa asam lemak alami, baik nabati maupun hewani, dengan basa dari alkali tanah atau logam. Dalam pengertian umum, „sabun“ adalah „sabun“ , bukan detergent; sedang „detergent“ adalah „Synthetic Detergent“ atau „Syndet

Karakteristik

  1. Surfactant

Surfactant mempunyai rantai molekul yang panjang, baik lurus maupun bercabang. Salah satu ujung rantainya adalah tidak larut dalam air (hydrophobic) yang berupa hydrocarbon nonpolar (nonpolar hydrocarbon), sementara ujung yang lain terdiri dari senyawa yang larut dalam air (hydrophilic) atau polar radikal, yang dapat terionisasi atau tidak terionisasi di dalam air. Dengan sifat surfactant seperti itu, maka detergent terbagi menjadi :

  1. Anionic detergent : Detergent/surfactant yang bermuatan negatif.
  1. Cationic detergent : Detergent/surfactant yang bermuatan positif.
  1. Nonionic detergent : Detergent/surfactant yang tidak bermuatan

Detergent/surfactant anionic dan nonionic adalah detergent yang umum digunakan saat ini.

Sabun mempunyai surfactant anionic yang polar radikalnya adalah senyawa karboxyl (carboxyl), sedang radikal polarnya adalah senyawa asam lemak dan garam alkali tanah atau garam inorganic dari logam. Oleh karena itu, sabun tidak atau kurang efektif dalam air sadah (Hard Water) dan air yang bersifat asam (pH rendah).

Detergent/surfactant anionic, detergent yang umum digunakan, mempunyai radikal/gugus polar yang bersifat hydrophilic terdiri dari garam alkali tanah atau logam dengan asam sulfanate atau asam sulfate. Oleh karena itu syndet tetap aktif dan efektif dalam air sadah maupun air yang ber pH rendah (asam).

R1 ———  C6 H4 ——– R2 SO3 Na

Nonionic Surfactan/detergent, umumnya berbentuk cairan. Detergent nonionik mempunyai buih sedikit atau hampir tidak berbuih. Detergent jenis ini digunakan untuk membersihkan peralatan yang efektif.

2. Bahan Pembangun (Builder or Binder)

Bahan/senyawa pembangun atau pengikat yang umum digunakan adalah “conducsed phosphates” khususnya “Sodium Tripoly Phosphates” yang bersifat “defloculant” dan “Softener” di dalam air. Dengan demikian “Builder” memacu dan meningkatkan efektifitas dan daya guna detergent.

Syndet yang terdapat di pasar (dunia) umumnya terdiri dari 10 – 30% surfactant, 25 – 40% bahan pembangun senyawa (komplek) kalium phosphate, 5 – 7% bahan pelindung atau anti korosif sodiumsilikat, 3 – 6% bahan penstabil basa dari senyawa amida, 15 – 25 % air dan sebagian kecil (trace element) adalah bahan-bahan penunjang atau “additives”.

3. Bahan Penunjang (additive Agents)

Diantara bahan-bahan penunjang yang sangat penting diantaranya adalah bahan penstabil busa, bahan pemutih atau “Optical Brightner”, bahan “antideposition” dan bahan pewangi (parfume).

Bahan penstabil busa adalah senyawa organic yang mirip sifatnya dengan surfactant. Bahan pemutih atau “optical brighners” adalah senyawa yang tidak berwarna, yang (relatif) selama dalam proses pembuatan dan pemakaian detergent berkilau (floresce) dalam cahaya matahari, sehingga menghasilkan warna benda yang dicuci lebih cemerlang (brighter).

Persistensi dan Toksisitas

Detergent dengan bahan aktif (surfactant) yang mempunyai rantai bercabang daya persistensi atau keberadaannya di alam (perairan/tanah) relative lama.

Detergent tipe ini disebut “Hard Detergent” yang relative tidak mudah urai (non degradable), tetapi toksisitasnya terhadap biota (aquatic) relative rendah.

Detergent berbahan aktif (surfactant) yang mempunyai rantai lurus atau linier, persistensinya rendah, tetapi toksisitasnya terhadap biota (aquatik) relatif tinggi.

Detergent type ini disebut “Soft Detergent

Detergent di Indonesia

Dalam dekade terakhir detergent telah umum dan bahkan telah memasyarakat digunakan sebagai bahan pencuci atau bahan pembersih,  baik dalam kegiatan sehari-hari di rumah tangga maupun dalam kegiatan industri.

Sebagai contoh (Nirnama, 1979), penduduk Jakarta rata-rata menggunakan detergent sebanyak 1,87 kg per-bulan atau 62 gram per keluarga per hari. Penggunaan detergent ini cenderung meningkat setiap tahunnya.

Detergent yang umum dipasarkan dan digunakan oleh masyarakat Indonesia, lebih dari 93% adalah ABS (Alkyl Benzene Sulfonat) yang termasuk type Hard Detergent.

Bentuk formulanya adalah:

(1) Tepung (powder),

(2) Pasta / paste yang dikenal sebagai “sabun colek” dan

(3) Cairan, contoh sabun cuci tangan dan bahan cuci

rambut (shampoo).

 

Catatan :

Di negara maju ABS hampir sudah tidak digunakan (dilarang).

CH3         CH3             CH3    Hydrophobic

│                 │                │

CH3 – CH2 – CH2 – CH – CH2- CH- CH2 – C – CH3

……………………………

Hydrophilic

SO3Na

Secara khusus detergent merupakan “surface active agent” antara air dan minyak yang dapat menghilangkan kotoran dengan cara emulsi.

Anionics Surfactant merupakan komponen utama penyusun detergent. Komponen ini termasuk kelompok Alkyl Aryl Sulfonates (ABS dan ALS), yang paling banyak digunakan di Indonesia dan mempunyai struktur RC6 H4 SO3 – H+

Surfactant ini mempunyai daya pembersih kuat, murah, bahan mudah didapat, dan mempunyai sifat fisik yag sangat menarik.

Surfactant ini terdiri dari 10 -15 rantai karbon biasanya C11 dan C12.  yang terikat pada lingkaran benzene dengan posisi cabang pada kelompok sulfonat HSO3 atau NaH4SO3H+ (Na) yang membuat sulit terurai secara biologis oleh mikroorganisme.

Sedangkan Linier Alkyl Sulfonat (LAS) adalah ABS yang linier dengan 10 atau lebih rantai karbon lurus, sehingga mudah terurai secara biologis oleh mikroorganisme.

Komponen detergent yang biasa terdapat di pasaran bebas tersaji pada table berikut ini :

Tabel 1. Prosentase Komposisi Bahan Penyusun

Detergent

Jenis Komponen Penyusun

Eropa

Amerika

Anionics LAS / MBAS

5 – 10

10 – 15

Nonionics Alkylthoxylates

2 – 10

10 – 15

Builders STTP , Zeolit

10 – 35

0 – 5

Bleaches Perborate

10 – 35

Activator Taed

0 – 5

Polymer

< 0,3

0 – 3

Brightners

2 – 6

< 0,3

Silicate

2 – 6

< 0,3

Silicones

< 1

< 1

Komposisi Sabun Detergent yang dipasarkan di Indonesia umumnya, adalah :

Alkyl (Dedosil) Benzene Sulfonat…………………………. 25%

Sodium triphosphate…………………………………………..  32%

Sodium sulfat……………………………………………………..  16%

Sodium silikat

Flourescent agent    } …………………………………………  2,5%

Parfum

Air ……………………………………………………………………        15%

Carrier (berbagai bahan/senyawa) ………………………        9,5%

Dampak Detergent

Detergent dan atau limbah rumah tangga dan industri yang tertampung di perairan dapat menimbulkan dampak lingkungan (environmental impact), sebagai berikut :

1. Lingkungan perairan (fisiko kimiawi air)

a. Kekeruhan

Detergent di dalam air berada dalam bentuk terlarut dan teremulsi (sebagian besar teremulsi). Secara langsung maupun tidak langsung, detergent meningkatkan kekeruhan air.

Secara langsung, yaitu dalam bentuk partikel-partikel terkoloid, detergent membaurkan sinar matahari (solar beam) yang masuk ke dalam kolom air, akibatnya kekeruhan air meningkat.

Secara tidak tidak langsung detergent meningkatkan kadar fosfat di dalam air, sehingga dapat meningkatkan kesuburan perairan, komunitas dan kelimpahan plankton nabati dan tumbuhan air (terutama yang mengapung) akan meningkat.

Peningkatan tingkat kekeruhan air sejalan dengan peningkatan kadar/kandungan detergent di dalam air dengan model eksponensial.

b. Kelarutan Oksigen

Pengaruh detergent terhadap kandungan oksigen terlarut dalam air diduga karena pengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh langsung diduga karena menurunnya tegangan permukaan (surface layer) atau lapisan antara (interface layer) hydrosfer dengan atmosfer sehingga daya difusi udara (oksigen) ke dalam air meningkat.

Pengaruh tidak langsung, pada siang hari, diduga karena peningkatan kesuburan perairan sehingga kelimpahan komunitas fitoplankton meningkat dan melalui fotosintesa, kandungan oksigen terlarut dalam air meningkat pula.

c. Kesuburan Perairan

Bahan/senyawa pembentuk (builder) atau pengikat (binder) detergent adalah senyawa (poly) phosphate.

Senyawa polyphosphate oleh mikroba akuatik (khususnya bakteri) dan sinar matahari (photo degradation) dirubah menjadi orthophosphat, sehingga perairan mengalami euthrophikasi.

2. Sumberdaya ikan / organisme air

Toksisitas kronis detergent terhadap ikan/organisme air, adalah :

  1. Menurunkan nafsu makan
  2. Mengganggu pernafasan
  3. Menurunkan kelangsungan hidup embryo dan daya tetas telur serta larva
  4. Menghambat laju pertumbuhan
  5. Merusak organ pembentuk darah (hati dan spleen); terbentuk erythrocyt muda
  6. f.   Iritasi epithelium insang  dan kulit

Laporan Praktikum Bangunan Pantai


LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM LAPANGAN
BANGUNAN PANTAI

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

RADHINA AMALIA      26020210110042
M. CHUSNUL MAROM    26020210120047
CATURAYU RIANINGTYAS    26020210120054
VERI YULIANTO      26020210141003
HADYAN RAFDI KAMARZ     26020210141010
ILHAM PANRA      26020210130068
ROHMA DESI T.     26020210130086
FAUZIAH RAFSANI       K2E 009 062

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

Semarang, 28 Juni 2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bangunan pantai digunakan untuk melindungi pantai dan pelabuhan terhadap kerusakan karena serangan gelombang dan arus. Pembangunan bangunan pantai akan mempengaruhi ekosistem disekitar pantai tersebut. Perubahan garis pantai disebabkan oleh faktor alam dan/atau faktor manusia. Faktor alam diantaranyagelombang laut, arus laut, angin, sedimentasi sungai, kondisi tumbuhan pantai serta aktivitas tektonik dan vulkanik. Sedangkan faktor manusia antara lain pembangunan pelabuhan dan fasilitas-fasilitasnya (misalnya breakwater), pertambangan, pengerukan, perusakan vegetasi pantai, pertambakan, perlindungan pantai serta reklamasi pantai.
Erosi pantai merupakan salah satu masalah serius perubahan garis pantai. Selain proses alami, seperti angin, arus dan gelombang, aktivitas manusia menjadi penyebab terjadinya erosi pantai seperti; pembukaan lahan baru dengan menebang hutan mangrove untuk kepentingan permukiman, dan pembangunan infrastruktur. Juga pemanfaatan ekosistem terumbu karang sebagai sumber pangan (ikan-ikan karang), sumber bahan bangunan (galian karang), komoditas perdagangan (ikan hias), dan obyek wisata (keindahan dan keanekaragaman hayati) sehingga mengganggu terhadap fungsi perlindungan pantai. Selain itu kerusakan terumbu karang bisa terjadi sebagai akibat bencana alam, seperti gempa dan tsunami, yang akhir-akhir ini sering melanda Negara Indonesia dan selalu menimbulkan kerusakan pada wilayah pesisir.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Memprediksi perubahan garis pantai disepanjang Pantai di Desa Mangunharjo
2. Dapat membuat rencana pembangunan bangunan perlindungan pantai di Desa Mangunharjo
3. Bisa membuat desain bangunan perlindungan pantai pada daerah tersebut.

1.3 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah :
1. Mendapat gambaran mengenai bangunan pantai.
2. Mendapatkan gambaran besaran perubahan garis pantai yang terjadi.
3. Memperoleh alternatif pengamanan terhadap daerah-daerah yang mengalamiabrasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pantai
Definisi atau pengertian pantai, pantai adalah sebuah wilayah yang menjadi batas antara lautandan daratan, bentuk pantai berbeda-beda sesuai dengan keadaan, proses yang terjadi di wilayah tersebut, seperti pengangkutan, pengendapan dan pengikisan yang disebabkan oleh gelombang, arus, angin dan keadaan lingkungan disekitarnya yang berlangsung secara terus menerus, sehingga membentuk sebuah pantai.
Manfaat pantai sangat banyak, pantai-pantai pasti memiliki manfaat untuk kehidupan, terutama daerah tropis pantai yang dapat dimanfaatkan manusia untuk banyak hal, diantaranya :
1. Objek pariwisata
2. Daerah pertanian pasang surut
3. Areal tambak garam
4. Wilayah perkebunan kelapa dan pisang
5. Daerah pengembangan industri kerajinan rakyat bercorak khas daerah pantai, dan lain-lain.
Pantai juga memiliki ekosistem, ekosistem pantai adalah ekosistem yang ada di wilayah perbatasan antara air laut dan daratan, dalam ekosistem pantai terdapat komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik pantai terdiri dari tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah pantai, sedangkan komponen abiotik pantai terdiri dari gelombang, arus, angin, pasir, batuan dan sebagainya.
Hutan Mangrove adalah salah satu contoh ekosistem di daerah pantai. Di daerah hutan mangrove hidup berbagai jenis hewan seperti kera, kepiting, ular dan udang. Hutan mangrove dapat berfungsi menahan abrasi air laut.

2.2 Bangunan Pantai
Bangunan pantai digunakan untuk melindungi pantai terhadap kerusakan karena serangan gelombang dan arus. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi pantai yaitu:memperkuat pantai atau melindungi pantai agar mampu menahan kerusakan karena serangan gelombangmengubah laju transpor sedimen sepanjang pantaimengurangi energi gelombang yang sampai ke pantaireklamasi dengan menambah suplai sedimen ke pantai atau dengan cara lain. Sesuai dengan fungsinya, bangunan pantai dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu:
• Konstruksi yang dibangun di pantai dan sejajar garis pantai
• Konstruksi yang dibangun kira-kira tegak lurus pantai
• Konstruksi yang dibangun di lepas pantai dan kikra-kira sejajar garis pantai
2.2.1 Jenis Bangunan Pantai
Berikut ini akan dipaparkan beberapa jenis bangunan pelindung pantai
A. Groin
Groin adalah struktur pengaman pantai yang dibangun menjorok relatif tegak lurus terhadap arah pantai. Bahan konstruksinya umumnya kayu, baja, beton (pipa beton), dan batu. Pemasangan groins menginterupsi aliran arus pantai sehingga pasir terperangkap pada “upcurrent side,” sedangkan pada “downcurrent side” terjadi erosi, karena pergerakan arus pantai yang berlanjut .

Groin

Gambar 1. Groin

Penggunaan Groin dengan mneggunakan satu buah groin tidaklah efektif. Biasanya perlindungan pantai dilakukan dengan membuat suatu seri bangunan yang terdiri dari beberapa groin yang ditempatkan dengan jarak tertentu. Hal ini dimaksudkan agar perubahan garis pantai tidak terlalu signifikan.Selain tipe lurus seperti yang ada pada gambar ada juga groin tipe L dan tipe T, yang kesemuanya dibangun berdasarkan kebutuhan

B. Jetty
Jetty adalah bangunan tegak lurus pantai yang diletakan di kedua sisi muara sungai yang berfungsi untuk mengurangi pendangkalan alur oleh sedimen pantai. Pada penggunaan muara sungai sebagai alur pelayaran, pengendapan dimuara dapat mengganggu lalu lintas kapal. Untuk keperluan tersebut jetty harus panjang sampai ujungnya berada di luar sedimen sepanjang pantai juga sangat berpengaruh terhedap pembentukan endapan tersebut. Pasir yang melintas didepan muara geelombang pecah. Dengan jetty panjang transport sedimen sepanjang pantai dapat tertahan dan pada alur pelayaran kondisi gelombang tidak pecah, sehingga memungkinkan kapal masuk kemuara sungai.

jetty

Gambar 2 : Jetty

Selain untuk melindingi alur pelayaran, jetty juga dapat digunakan untuk mencegah pendangkalan dimuara dalam kaitannya dengan pengendalian banjir. Sungai-sungai yang bermuara pada pantai yang berpasir engan gelombang yang cukup besar sering mengalami penyumbatan muara oleh endapan pasir.karena pengaruh gelombang dan angin, endapan pasir terbentuk di muara.

C. Breakwater

Breakwater

Gambar 3 : Breakwater

Sebenarnya breakwater atau pemecah gelombang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pemecah gelombang sambung pantai dan lepas pantai. Tipe pertama banyak digunakan pada perlindungan perairan pelabuhan, sedangkan tipe kedua untuk perlindungan pantai terhadap erosi. Secara umum kondisi perencanaan kedua tipe adalah sama, hanya pada tipe pertama perlu ditinjau karakteristik gelombang di beberapa lokasi di sepanjang pemecah gelombang, seperti halnya pada perencanaan groin dan jetty. Gelombang yang menjalar mengenai suatu bangunan peredam gelombang sebagian energinya akan dipantulkan (refleksi), sebagian diteruskan (transmisi) dan sebagian dihancurkan (dissipasi) melalui pecahnya gelombang, kekentalan fluida, gesekan dasar dan lain-lainnya.

D. Seawall

sea-wall

Gambar 4 : Seawall


Seawall hampir serupa dengn revetment (stuktur pelindung pantai yang dibuat sejajar pantai dan biasanya memiliki permukaan miring), yaitu dibuat sejajar pantai tapi seawall memiliki dinding relatif tegak atau lengkung. Seawall juga dapat dikatakan sebagai dinding banjir yang berfungsi sebagai pelindung/penahan terhadap kekuatan gelombang. Seawall pada umumnya dibuat dari konstruksi padat seperti beton, turap baja/kayu, pasangan batu atau pipa beton sehingga seawall tidak meredam energi gelombang.

E. Artificial Headland
Tanjung buatan adalah struktur batuan yang dibangun di sepanjang ujung pantai mengikis bukit-bukit untuk melindungi titik strategis, yang memungkinkan proses-proses alam untuk melanjutkan sepanjang bagian depan yang tersisa. Hal ini secara signifikan lebih murah daripada melindungi seluruh bagian depan dan dapat memberikan perlindungan sementara atau jangka panjang dengan aktif dari berbagai macam resiko. Tanjung sementara dapat dibentuk dari gabions atau kantong pasir, namun umurnya biasanya tidaklah panjang antara 1 sampai 5 tahun

artificial-headland

Gambar 5 : Artificial Headland

Tanjung buatan berfungsi menstabilkandaerah pesisir pantai, membentuk garis pantai semakin stabil, garis pantai menjadi lebih menjorok sehingga energi gelombang akan hilang pada daerah shoreline dan akhirnya membentuk pesisir rencana yang lebih stabil dan dapat berkembang. Stabilitas akan tergantung pada panjang dan jarak dari tanjung. struktur pendek dengan celah panjang akan memberikan perlindungan lokal tetapi tidak mungkin mengizinkan bentuk rencana stabil untuk dikembangkan.

F. Beach Nourishment
Kita ketahui erosi dapat terjadi jika di suatu pantai yang ditinjau terdapat kekurangan suplai pasir. Stabilitasi [antai dapat dilakukan dengan penambahan suplai pasir ke daerah yang terjadi erosi itu. Apabila erosi terjadi secara terus menerus , maka suplai pasir harus dilakukan secara berkala dengan laju sama dengan kehilangan pasir . Untuk pantai yang cukup panjang maka penambahan pasir dengan cara pembelian kurang efektif sehingga digunakan alternatif pasir diambil dari hasil sedimentasi sis lain dari pantai.

G. Terumbu Buatan
Terumbu buatan (artificial reef) bukanlah hal baru, di Jepang dan Amerika usaha ini telah dilakukan lebih dari 100 tahun yang lalu. Mula-mula dilakukan dengan menempatkan material natural berukuran kecil sebagai upaya untuk menarik dan meningkatkan populasi ikan.

2.3 Parameter Fisika Perairan
2.3.1 Gelombang
2.3.1.1Definisi Gelombang
Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke perairan, menyebabkan riak-riak, alun/bukit, dan berubah menjadi apa yang kita sebut sebagai gelombang.
Gelombang/ombak yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam tergantung kepada gaya pembangkitnya. Pembangkit gelombang laut dapat disebabkan oleh: angin (gelombang angin), gaya tarik menarik bumi-bulan-matahari (gelombang pasang-surut), gempa (vulkanik atau tektonik) di dasar laut (gelombang tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan kapal.
Bagian-bagian gelombang gelombang ideal adalah:
a. Crest : merupakan titik tertinggi atau puncak sebuah gelombang
b. Trough : merupakan titik terendah atau lembah sebuah gelombang
c. Wave height : merupakan jarak vertikal antara crest dan trough atau disebut juga tinggi gelombang
d. Wave lenght : merupakan jarak berturut-turut antara dua buah crest atau dua buah trough, disebut juga satu panjang gelombang
e. Wave period : waktu yang dibutuhkan crest untuk kembali pada titik semula secara berturut-turut, disebut juga periode gelombang
f. Wave steepnees : perbandingan antara panjang gelombang dengan tinggi gelombang, disebut juga kemiringan gelombang

Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar.

Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju ke pantai akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut. Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari friksi/gesekan antara air dan dasar pantai. Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air akan terus melaju. Semakin menuju ke pantai, puncak gelombang akan semakin tajam dan lembahnya akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang tersebut kemudian pecah.
2.3.1.2 Tipe Gelombang
Gelombang dalam oseanografi secara umum dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
a. Gelombang permukaan, dan
b. Gelombang internal.
Gelombang permukaan adalah fenomena yang akan kita temui ketika mengamati permukaan air laut, dan biasa disebut sebagai ombak. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya ombak adalah hembusan angin, disamping ada pula faktor lain seperti pasang surut laut yang terjadi akibat adanya gaya tarik bulan dan matahari.
1. Tipe gelombang berdasarkan gaya pembangkitnya
a. Gelombang laut akibat angin
Gelombang yang disebabkan oleh angin dapat menimbulkan energi untuk membentuk pantai, menimbulkan arus dan transpor sedimen dalam arah tegak lurus dan sepanjang pantai, serta menyebabkan gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai. Gelombang merupakan faktor utama di dalam penentuan tata letak (layout) pelabuhan, alur pelayaran, perencanaan bangunan pantai, dan sebagainya.
b. Gelombang laut akibat pasang surut
Pasang surut juga merupakan faktor yang penting karena bisa menimbulkan arus yang cukup kuat terutama di daerah yang sempit, misalkan di teluk, estuari, dan muara sungai. Selain itu elevasi muka air pasang dan air surut juga sangat penting untuk merencanakan bangunan – bangunan pantai. Sebagai contoh elevasi puncak bangunan pantai ditentukan oleh elevasi muka air pasang untuk mengurangi limpasan air,sementara kedalaman alur pelayaran dan perairan pelabuhan ditentukan oleh muka air surut. Gelombang besar yang datang ke pantai pada saat air pasang bisa menyebabkan kerusakan pantai sampai jauh ke daratan.
c. Gelombang laut akibat tsunami
Tsunami adalah gelombang yang terjadi karena letusan gunung berapi atau gempa bumi di laut. Gelombang yang terjadi bervariasi dari 0,5 m sampai 30 m dan periode dari beberapa menit sampai sekitar satu jam. Tinggi gelombang tsunami dipengaruhi oleh konfigurasi dasar laut. Selama penjalaran dari tengah laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju pantai, sedangkan tinggi gelombang semakin besar oleh karena pengaruh perubahan kedalaman laut. Di daerah pantai tinggi gelombang tsunami dapat mencapai puluhan meter.
d. Tipe gelombang berdasarkan sifatnya
Ketinggian dan periode gelombang tergantung kepada panjang fetch pembangkitannya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut. Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar. Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih besar.
Ada dua tipe gelombang, bila dipandang dari sisi sifat-sifatnya, yaitu:
a. Gelombang pembangun/pembentuk pantai (Constructive wave).
b. Gelombang perusak pantai (Destructive wave).
Yang termasuk gelombang pembentuk pantai, bercirikan mempunyai ketinggian kecil dan kecepatan rambatnya rendah. Sehingga saat gelombang tersebut pecah di pantai akan mengangkut sedimen (material pantai). Material pantai akan tertinggal di pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap ke dalam pasir atau pelan-pelan mengalir kembali ke laut.
Sedangkan gelombang perusak pantai biasanya mempunyai ketinggian dan kecepatan rambat yang besar (sangat tinggi). Air yang kembali berputar mempunyai lebih sedikit waktu untuk meresap ke dalam pasir. Ketika gelombang datang kembali menghantam pantai akan ada banyak volume air yang terkumpul dan mengangkut material pantai menuju ke tengah laut atau ke tempat lain.
Hubungan antara kecepatan angin dan sifat-sifat gelombang yang dihasilkan di lautan ( McLellan dalam Hutabarat dan Evan, 1985 ).
Tabel Hubungan antara kecepatan angin dan sifat-sifat gelombang

Gelombang laut dalam : d/L > 0,5
Gelombang transisi : 1/20 < d/L < 0,5
Gelombang dangkal : d/L < 1/20
a. Dalam hal ini, gaya pemulih berusaha untuk mengembalikan permukaan air yang terganggu ( akibat terbentuknya gelombang ) ke posisi semula ( pada waktu laut dalam keadaan tenang ).
b. Untuk gelombang-gelombang kecil yang panjang gelombangnya < 1,63 cm, gaya pemulihnya adalah tegangan permukaan. c. Untuk gelombang dengan panjang gelombangnya > 5 cm, gaya pemulihnya adalah gravitasi.
d. Gelombang dengan panjang gelombang antara 1,63-5 cm , tegangan permukaan dan gravitasi kedua-duanya berperan sebagai gaya pemulih.
e. Gelombang yang gaya pemulihnya tegangan permukaan disebut gelombang kapiler , sedangkan gelombang yang gaya pemulihnya gravitasi , disebut gelombang gravitasi.

2.3.2 Pasang Surut
Pasang surut laut adalah gelombang yang dibangkitkan oleh adanya interaksi antara bumi, matahari dan bulan. Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah gelombang disebut pasang rendah. Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang surut (tidal range). Periode pasang surut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Harga periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit.
Terdapat tiga tipe dasar pasang surut yang didasarkan pada periode dan keteraturannya, yaitu pasang surut harian (diurnal), tengah harian (semi diurnal) dan campuran (mixed tides). Dalam sebulan, variasi harian dari rentang pasang surut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan. Rentang pasang surut juga bergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai samudera.
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.
Pasang surut purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang surut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama.
Pasang surut perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang rendah dan pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini terjadi pasa saat bulan 1/4 dan 3/4.

2.3.2.1 Definisi Elevasi Muka Air
Beberapa elevasi tersebut adalah sebagai berikut : 1. Muka air tinggi (high water level), muka air tertinggi yang dicapai pada saat air pasang dalam satu siklus pasang surut. 2. Muka air rendah (low water level), kedudukan air terendah yang dicapai pada saat air surut dalam satu siklus pasang surut. 3. Muka air tinggi rata-rata (mean high water level, MHWL), adalah rataan dari muka air tinggi selama periode 19 tahun. 4. Muka air rendah rerata (mean low water level, MLWL), adalah rerata dari muka air rendah selama periode 19 tahun. 5. Muka air laut rerata (mean sea level, MSL), adalah muka air rerata antara muka air tinggi rerata dan muka air rendah rerata. Elevasi ini digunakan sebagai referensi untuk elevasi di daratan. 6. Muka air tinggi tertinggi (highest high water level, HHWL), adalah air tertinggi pada saat pasang surut purnama atau bulan mati. 7. Muka air rendah terendah (lowest low water level, LLWL), adalah air terendah pada saat pasang surut purnama atau bulan mati. 8. Higher high water level, adalah air tertinggi dari dua air tinggi dalam satu hari, seperti dalam pasang surut tipe campuran. 9. Lower low water level, adalah air terendah dari dua air rendah dalam satu hari.
2.3.2.2 Elevasi Muka Air Rencana
Untuk menentukan muka air rencana saluran, harus tersediadata-data topografi dalam jumlah yang memadai. Setelahlayout pendahuluan selesai, trase saluran yang diusulkandiukur. Elevasi sawah harus diukur 7,5 meter di luar assaluran irigasi atau pembuang yang direncana tiap interval50 m dan pada lokasi-lokasi khusus.Hal ini penting karena-saluran kuarter harus memberi air ke sawah-sawah ini-pembuang kuarter dan tersier menerima kelebihan airdari sawah-sawah ini- jalan inspeksi atau jalan petani 0,5 m di atas permukaan sawah ini kedalaman pondasi bangunan dikaitkan langsung denganelevasi sawah ash.Jika saluran-saluran yang sudah ada masih tetap akandipakai, maka elevasi tanggulnya juga harus diukur.Hasil-hasil pengukuran akan disajikan dalam bentuk gambarsituasi (1 : 2.000), dan potongan memanjang (skalahorisontal 1:2.000, vertikal 1:50). Tidak diperlukan potonganmelintang, kecuali untuk standar potongan untuk setiapsketsa dengan dimensi yang sama. Tetapi potonganmelintang pada daerah bergelombang digambar pada jarak100 m.Beda elevasi (head) yang ada antara elevasi sawah denganelevasi air di jaringan utama harus diketahui. Elevasi air di jaringan utama dan jaringan irigasi yang ada dapat diperolehdari gambar-gambar rencana atau gambar-gambar

2.3.3 Sedimen
2.3.3.1 Definisi Sedimen
Endapan sedimen (sedimentary deposit) adalah tubuh material padat yang terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi tekanan dan temperatur yang rendah. Sedimen umumnya (namun tidak selalu) diendapkan dari fluida dimana material penyusun sedimen itu sebelumnya berada, baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi. Definisi ini sebenarnya tidak dapat diterapkan untuk semua jenis batuan sedimen karena ada beberapa jenis endapan yang telah disepakati oleh para ahli sebagai endapan sedimen: (1) diendapkan dari udara sebagai benda padat di bawah temperatur yang relatif tinggi, misalnya material fragmental yang dilepaskan dari gunungapi; (2) diendapkan di bawah tekanan yang relatif tinggi, misalnya endapan lantai laut-dalam. Petrologi sedimen (sedimentary petrology) adalah cabang petrologi yang membahas batuan sedimen, terutama pemerian-nya. Di Amerika Serikat, istilah sedimentasi (sedimentation) umumnya digunakan untuk menamakan ilmu yang mempelajari proses pengakumulasian sedimen, khususnya endapan yang asalnya merupakan partikel-partikel padat dalam suatu fluida. Pada 1932, Wadell mengusulkan istilah sedimentologi (sedimentology) untuk menamakan ilmu yang mempelajari segala aspek sedimen dan batuan sedimen. Sedimentologi dipandang memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada petrologi sedimen karena petrologi sedimen biasanya terbatas pada studi laboratorium, khususnya studi sayatan tipis, sedangkan sedimentologi meliputi studi lapangan dan laboratorium (Vatan, 1954:3-8). Pemakaian istilah sedimentologi untuk menamakan ilmu yang mempelajari semua aspek sedimen dan batuan sedimen disepakati oleh para ahli sedimentologi Eropa, bahkan akhirnya dikukuhkan sebagai istilah resmi secara internasional bersamaan dengan didirikannya International Association of Sedimentologists pada 1946.

2.3.3.2 Klasifikasi Sedimen
• Klasifikasi sedimen berdasarkan asalnya
Menurut asal usul sedimen dasar laut dapat digolongkan sebagai berikut:
1.Lithogenous; Jenis sedimen ini berasal dari pelapukan (weathering) batuan dari daratan, lempeng kontinen termasuk yang berasal dari kegiatan vulkanik.
2.Biogenous; Sedimen ini berasal dari organisme laut yang telah mati dan terdiri dari remah-remah tulang, gigi-geligi, dan cangkang-cangkang tanaman maupun hewan mikro. Komponen kimia yang sering ditemukan dalam sediment ini adalah CaCO3 dan SiO2.
3.Hydrogenous; Sedimen ini berasal dari komponen kimia yang larut dalam air laut dengan konsentrasi yang kelewat jenuh sehingga terjadi pengendapan (deposisi) di dasar laut. Contohnya endapan Mangan (Mn) yang berbentuk nodul, dan endapan glauconite (hydro silikat yang berwarna kehijauan dengan komposisi yang terdiri dari ion-ion K, Mg, Fe, dan Si).
4.Cosmogenous; Sedimen ini bersal dari luar angkasa di mana partikel dari benda-benda angkasa ditemukan di dasar laut dan mengandung banyak unsur besi sehingga mempunyai respon magnetik dan berukuran antara 10 – 640 m (Wibisono, 2005).

• Klasifikasi Berdasarkan Besar Butir
Sedimen cenderung untuk didominasi oleh satu atau beberapa jenis partikel, akan tetapi mereka tetap terdiri dari ukuran yang berbeda-beda (Hutabarat dan Evants, 1985). Ukuran butir sedimen diwakili oleh diameternya yang biasa disimbolkan dengan d, dan satuan yang lazim digunakan untuk ukuran butir sedimen adalah millimeter (mm) dan micrometer (µm) (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).
Sedimen pantai diklasifikasikan berdasar ukuran butir menjadi lempung, lumpur, pasir, butiran, kerikil, kerakal, dan bongkahan. Tabel 1 menunjukkan klasifikasi menurut Wenthworth, yang banyak digunakan dalam bidang teknik pantai (CERC, 1984). Material sangat halus seperti lumpur dan lempung berdiameter dibawah 0,063 mm dapat dikategorikan sebagai sedimen kohesif (Triatmodjo, 1999).

• Klasifikasi Berdasarkan Lingkungan Pengendapan
1.Sedimen laut (marine), diendapkan di laut contohnya batu gamping, dolomite, napal, dan lain sebagainya.
2.Sedimen darat (teristris/kontinen), proses terjadinya di daratan misalnya endapan sungai (alluvium), endapan danau, talus, koluvium, endapan gurun (aeolis), dan sebagainya.
3.Sedimen transisi, lokasi pembentukannya terletak antara darat dan laut misalnya delta.

2.3.3.3 Transport Sedimen di Perairan Pantai
Menurut Pettijohn (1975), Selley (1988) dan Richard (1992) menyatakan bahwa cara transfortasi sedimen dalam aliran air dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Sedimen merayap (bed load) yaitu material yang terangkut secara menggeser atau menggelinding di dasar aliran.
2. Sedimen loncat (saltation load) yaitu material yang meloncat-loncat bertumpu pada dasar aliran.
3. Sedimen layang (suspended load) yaitu material yang terbawa arus dengan cara melayang-layang dalam air.
Transfor sedimen sepanjang pantai merupakan gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya (Komar : 1983). Transfor sedimen ini terjadi di daerah antara gelombang pecah dan garis pantai akibat sedimen yang dibawanya (Carter, 1993). Menurut Triatmojo (1999) transfor sedimen sepanjang pantai terdiri dari dua komponen utama yaitu transfor sedimen dalam bentuk mata gergaji di garis pantai dan transfor sedimen sepanjang pantai di surf zone.
Transfor sedimen pantai banyak menimbulkan fenomena perubahan dasar perairan seperti pendangkalan muara sungai erosi pantai perubahan garis pantai dan sebagainya (Yuwono, 1994). Fenomena ini biasanya merupakan permasalahan terutama pada daerah pelabuhan sehingga prediksinya sangat diperlukan dalam perencanaan ataupun penentuan metode penanggulangan. Menurut Triatmojo (1999) beberapa cara yang biasanya digunakan antara lain adalah :
a. Melakukan pengukuran debit sedimen pada setiap titik yang ditinjau, sehingga secra berantai akan dapat diketahui transfor sedimen yang terjadi.
b. Menggunakan peta/ foto udara atau pengukuran yang menunjukan perubahan elevasi dasar perairan dalam suatu periode tertentu. Cara ini akan memberikan hasil yang baik jika di daerah pengukuran terdapat bangunan yang mampu menangkap sedimen seperti training jetty, groin, dan sebagainya.
c. Rumus empiris yang didasarkan pada kondisi gelombang dan sedimen pada daerah yang di tinjau

BAB III
MATERI DAN METODE

3.1. Alat dan Bahan
3.1.1 Pengukuran Dimensi Bangunan Pantai

No Alat dan Bahan Gambar Fungsi
1 Roll Meter Untuk mengukur jarak Palm
2 Kertas Catatan Untuk Mencatat Data Pengamatan
3 Bambu Untuk mengukur kedalaman

3.1.2 Pengukuran Slope Pantai

No Alat dan Bahan Gambar Fungsi
1 Palem Gelombang 2m, Untuk menentukan tinggi (H)
2 Selang 10m, Untuk menentukan Kelandaian
3 Roll Meter, Untuk mengukur jarak Palem
4 Alat Tulis, Untuk Mencatat Data Pengamatan
5. Kamera, Untuk dokumentasi pada saat praktikum

3.1.3 Pengukuran Nilai Backwash dan swash
No Alat dan Bahan Gambar Fungsi
1 Plastik 1kg, Untuk wadah sedimen
2 Serokan Sampah, Untuk menangkap sedimen
3 Kertas Label, Untuk memberi keterangan pada sampel
5. Kamera, Untuk dokumentasi pada saat praktikum

3.1.4 Pengukuran Gelombang
No Alat dan Bahan Gambar Fungsi
1 Palem Gelombang 2m Untuk menentukan nilai puncak dan lembah gelombang
2 Stopwatch Untuk menentukan nilai periode
3 Alat Tulis Untuk Mencatat Data Pengamatan
5. Kamera, Untuk dokumentasi pada saat praktikum

3.1.5 Pengukuran Pasang Surut
No Alat dan Bahan Gambar Fungsi
1 Palem Pasut Untuk mengukur nilai air laut saat pasang dan saat surut
2 Alat Tulis Untuk Mencatat Data Pengamatan
5. Kamera, Untuk dokumentasi pada saat praktikum

3.2 Metode
3.2.1 Pengukuran Dimensi Bangunan Pantai
Cara Kerja :
1. Ukur panjang bangunan pantai menggunakan roll meter dari satu ujung ke ujung akhirnya
2. Ukur panjang antara groin satu ke groin berikutnya menggunakan roll meter, lakukan hingga groin terakhir
3. Ukur kedalaman pada tiga (3) titik yaitu pada groin paling ujung, groin paling tengah, dan groin paling pangkal dengan menggunakan bambu.

3.2.2 Pengukuran Slope Pantai
Cara Kerja :
1. Palem gelombang didirikan tegak dengan yang satu berada di tepi pantai dan yang satu di daerah gelombang tertinggi sampai kedaratan.
2. Selang 10m di letakkan ujungnya masing-masing pada palem gelombang hingga stabil.
3. Kemudian tinggi dan jaraknya dari palem 1 ke palem 2 diukur menggunakan roll meter.
4. Hasil pengamatan dicatat dikertas catatan lalu diolah.

3.2.3 Pengukuran Nilai Backwash dan swash
Cara Kerja :
1. Dua orang memegang serokan sampah.
2. Serokan sampah diarahkan ke dua sisi yang berbeda, satu menghadap tepi pantai dan yang satu menghadap perairan lepas pantai.
3. Ketika gelombang dari lepas pantai datang kearah serokan, serokan ditarik keatas hingga didapat sampel sedimen.
4. Sampel sedimen dimasukkan ke dalam plastik 1kg.
5. Kemudian plastik diberi label keterangan waktu dan stasiun.
6. Pengambilan sampel dilakukan di 5 titik pada tiap groin
7. Lalu sampel ditimbang beratnya di Lab dan dianalisa.

3.2.4 Pengukuran Gelombang
Cara Kerja :
1. Pasang palem gelombang pada stasiun yang telah di tentukan
2. Amati nilai puncak gelombang, lembah gelombang, dan periode(1 periode = puncak ke pucak)
3. Catat menggunakan alat tulis hingga didapatkan 200 data

3.2.5 Pengukuran Pasang Surut
Dalam pengukuran pasang surut dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode langsung dan metode tak langsung.
a) Metode Langsung
Metode langsung merupakan metode pengukuran pasang surut laut secara langsung dilapangan. Pada metode ini, dilakukan pengamatan dengan menggunakan alat yang disebut palm pasut, dari pengamatan didapatkan data tinggi gelombang pada saat pasang dan surut yang kemudian dicatat tinggi puncak gelombang dan lembahnya maksimal setiap 1 jam. Pengamatan ini dilakukan minimal selama 15 hari untuk mengetahui karakteristik pasang surut laut di daerah pengamatan.
b) Metode Tak Langsung
Metode Tak Langsung merupakan metode pengukuran pasang surut laut melalui informasi dari instansi atau data citra satelit. Pengukuran pasang surut dalam praktikum kali ini menggunkan metode ini. Data pasang surut dalam praktikum ini merupakan data pasang surut selama bulan Juni 2007 yang didapatkan dari Stasiun Meteorologi Maritim Semarang. Data direkam setiap 1 jam sekali. Data ini kemudian diolah menggunakan metode Admiralty sehingga didapatkan data MSL, HHWL, LLWL, dan karakteristik pasang surut laut lainnya sehingga dapat diketahui tipe pasang surut wilayah tersebut.

BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Pengukuran Dimensi Bangunan Pantai

1. Koordinat ujung pangkal Bangunan pantai S 60 56′ 36,353″ E 1100 19′ 20,843″

bangunan pantai arah laut siku sebelah kiri S 560 56′ 35,012″ E 1100 19′ 27,552″
Ujung breakwater S 60 56′ 34,806″ E 1100 19′ 27,792″
P dari ujung pangkal bangunan pantai sampai siku groin(cm) 30
Tinggi ujung pangkal Bangunan pantai (m) 1
Tinggi bangunan pantai arah laut siku sebelah kiri (cm) 208
Tinggi sedimen(cm) 25
Tinggi Bangunan (cm) 65
Tinggi Bangunan menghadap Laut (cm) 44

2. Koordinat bangunan pantai arah laut siku sebelah kiri S 60 56′ 35,507″

E 1100 19′ 28,721″
Ujung breakwater S 60 56′ 35,294″
E 1100 19′ 28,588″
Tinggi bangunan pantai arah laut siku sebelah kiri (cm) 39
Tinggi sedimen(cm) 29

3. Koordinat bangunan pantai arah laut siku sebelah kiri S 60 56′ 36,090″

E 1100 19′ 28,495″
Ujung breakwater S 60 56′ 35,294″
E 1100 19′ 28,588″
P (cm) 1377
L (cm) 90
T1 (cm) 34
T2 (cm) 87
T3 (cm) 173
Tinggi pangkal breakwater (cm) 40
Jarak breakwater 3 – 4 (cm) 40001

4. P (cm) 1345

L (cm) 96
T1 (cm) 47
T2 (cm) 103
T3 (cm) 139
Tinggi pangkal breakwater (cm) 22
Jarak breakwater 4 – 5(cm) 2992

5. P (cm) 1418

L (cm) 96
T1 (cm) 47
T2 (cm) 101
T3 (cm) 177
Tinggi pangkal breakwater (cm) 21
Jarak breakwater 5 – siku-siku (cm) 2118
T1 diujung siku-siku (cm) 189
T2 ditengah (cm) 127
Jarak siku-siku – ujung (cm) 449
L ujung pangkal breakwater (cm) 95
T1 diujung pangkal breakwater (cm) 198
T2 pas disiku-siku (cm) 205

4.1.2 Pengukuran Slope Pantai
Stasiun 1 =
• Tinggi palem 1,h = 150 cm
• Tinggi palem 2, h = 98cm
∆h = 150-98 = 52 cm
• Jarak palem 1 dan 2, L = 500 cm
• Kelandaian = I = ∆h/L
I = 52/500 = 0,104
Stasiun 2 =
• Tinggi palem 1,h = 130 cm
• Tinggi palem 2, h = 60cm
∆h = 130-60 = 70 cm
• Jarak palem 1 dan 2, L = 500 cm
• Kelandaian = I = ∆h/L
I = 70/500 = 0,14
Stasiun 3 =
• Tinggi palem 1,h = 147 cm
• Tinggi palem 2, h = 74cm
∆h = 147-74 = 73 cm
• Jarak palem 1 dan 2, L = 500 cm
• Kelandaian = I = ∆h/L
I = 73/500 = 0,146
Stasiun 4 =
• Tinggi palem 1,h = 147 cm
• Tinggi palem 2, h = 74cm
∆h = 147-74 = 73 cm
• Jarak palem 1 dan 2, L = 500 cm
• Kelandaian = I = ∆h/L
I = 73/500 = 0,146
Stasiun 5 =
• Tinggi palem 1,h = 165 cm
• Tinggi palem 2, h = 105cm
∆h = 165-105 = 60 cm
• Jarak palem 1 dan 2, L = 500 cm
• Kelandaian = I = ∆h/L
I = 60/500 = 0,12

Hi H2 L (cm) Stasiun ∆h = h1-h2 i = ∆h / L
150 98 500 Stasiun 1 52 0.104
130 60 500 Stasiun 2 70 0.14
147 74 500 Stasiun 3 73 0.146
147 74 500 Stasiun 4 73 0.146
165 105 500 Stasiun 5 60 0.12

4.1.3 Pengukuran Nilai Backwash dan Swash
4.1.3.1 Sedimen Swash
SWASH
No. Stasiun Sedimen (gr)+ Plastik (gr) + Sedimen (gr)
1        Stasiun 117.05                0.65                    16.4
2        Stasiun 2 24.46               0.65                    23.81
3        Stasiun 3 51.35               0.65                    50.7
4        Stasiun 4 61.79               0.65                    61.14

4.1.3.2 Sedimen Backswash
BACKSWASH
No Stasiun Sedimen + Plastik (gr) Plastik
(gr) Sedimen
(gr)
1 Stasiun 1 61.74 0.65 61.09
2 Stasiun 2 47.60 0.65 46.95
3 Stasiun 3 78.64 0.65 77.99
4 Stasiun 4 42.86 0.65 42.21

4.1.3.3 Sedimen Dasar
STASIUN 2
No Ukuran Butir Sedimen + Plastik
(gr) Plastik
(gr) Sedimen
(gr)
1 0.2 8.28 0.98 7.3
2 0.05 187.63 0.98 186.65
3 0.03 2.91 0.98 1.93
4 0.0125 8.28 0.98 1.1
5 0.0625 1.88 0.98 0.9

STASIUN 4
No Ukuran Butir Sedimen + Plastik
(gr) Plastik
(gr) Sedimen
(gr)
1 0.2 6.36 0.98 5.38
2 0.05 158.46 0.98 157.48
3 0.03 13.21 0.98 12.23
4 0.0125 9.58 0.98 8.6
5 0.0625 1.28 0.98 0.3

4.1.4 Pengukuran Gelombang
Praktikum pengamatan gelombang ini dilakukan dengan mengamati tinggi maksimum dan minimum gelombang, serta periode gelombangnya. Pengamatan dilakukan di laut dengan mendirikan palem gelombang pada daerah dengan kedalaman kurang lebih 90 cm. Pada praktikum kali ini, pengamatan gelombang dilakukan pada pukul 10.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB di perairan Perairan Mangunharjo. Jumlah data minimal yang diambil adalah sebanyak 200 data pengamatan gelombang, yang masing-masing terdiri dari data tinggi maksimum (puncak gelombang), tinggi minimum (lembah gelombang), dan periode gelombang. Berikut ini adalah beberapa sampel data hasil pengamatan gelombang yang diambil pada pukul 10-00 – 12.00 WIB di Perairan Mangunharjo

4.1.5 Pengukuran Pasut
Tabel 4.1. Hasil analisis konstanta harmonik pasang surut dengan metode
Admiralty.
Konstanta A (m) g (° )
S0 125,8908
M2 30,7261 332,84
S2 34,4241 349,45
N2 15,3635 20,98
K1 33,9357 85,54
O1 28,6547 242,82
M4 3,8015 307,11
MS4 33,6535 319,99
K2 9,2945 349,45
P1 11,1988 85,54

Tabel 4.2. Nilai-nilai elevasi penting hasil pengolahan data pasang surut dengan
metode Admiralty.
Keterangan Elevasi (cm)
MSL 82
HHWL 167
LLWL -75
Zo 36,57
MLWL -28,60
MHWL 101,70

4.2 PEMBAHASAN
4.2.1 Pengukuran Dimensi Bangunan Pantai
Bangunan pantai yang kita tinjau pada praktikum kali ini adalah groin pada daerah Mangunharjo. Dengan adanya pengukuran dan perhitungan dimensi bangunan pantai yang berkesinambungan dengan faktor hidro-oseanografi maka akan dihasilkan suatu bangunan pantai yang sesuai dengan wilayah yang akan dibuat bangunan pantai sehingga tidak akan merusak ekosistem yang ada. Desain bangunan yang baik adalah yang memperhatikan faktor hidro-oseanografi meliputi gelombang, arus, pasut, dan sedimen. Groin sendiri digunakan untuk menahan masuknya transport sedimen sepanjang pantai ke pelabuhan atau muara sungai. Daerah yang kami kaji memang dekat dengan muara sungai dan dikelilingi oleh pohon mangrove sebagai penghalau gelombang besar.
Terdapat 5 breakwater pada daerah yang kami kaji dan dari pengukuran dimensi bangunan pantai ini kita mendapatkan data yang meliputi data koordinat tiap titik, panjang bangunan, tinggi bangunan dan lebar bangunan. Koordinat tiap titik tapi karena adanya human error maka hanya breakwater 1, 2, dan 3 yang tercatat koordinatnya sementara breakwater 4 dan 5 tidak ada. Pada Breakwater 1 nilai P dari ujung pangkal bangunan pantai sampai siku groin 30cm, tinggi ujung pangkal Bangunan pantai 1m, tinggi bangunan pantai arah laut siku sebelah kiri 208cm, tinggi sedimen 25cm, tinggi Bangunan 65cm, tinggi Bangunan menghadap Laut 44cm. Pada brekwater 2 tinggi bangunan pantai arah laut siku sebelah kiri 39cm dengan tinggi sedimen 29cm. Pada brekwater 3 nilai P 1377cm, L 90cm, T1 34cm, T2 87cm, T3 173cm, Tinggi pangkal breakwater 40cm, Jarak breakwater 3 – 4 40001cm. Pada breakwater 4 nilai P 1345cm, L 96cm, T1 47cm, T2 103cm, T3 (cm) 139, tinggi pangkal breakwater 22cm, Jarak breakwater 4 – 5 adalah 2992cm. Pada breakwater 5 nilai P 1418cm, L 96cm, T1 47cm, T2 101cm, T3 177cm, Tinggi pangkal breakwater 21cm, Jarak breakwater 5 – siku-siku adalah 2118cm, T1 diujung siku-siku 189cm, T2 ditengah 127cm, Jarak siku-siku – ujung 449cm, L ujung pangkal breakwater 95cm, T1 diujung pangkal breakwater 198cm, T2 pas disiku-siku 205cm. Tentu saja hasil pengukuran yang kami lakukan masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan yang disebabkan oleh human error dan mungkin akan menjadikan acuan perbaikan data lapangan agar kedepannya lebih baik lagi.
Groin ditempatkan dipantai dan akan menahan gerak sedimen, sehingga sedimen mengendap di sisi sebelah hulu (terhadap arah transport sedimen sepanjang pantai). Disebelah hilir groin angkutan sedimen masih tetap terjadi, sementara suplai dari sebelah hulu terhalang oleh bangunan, akibatnya daerah hilir groin mengalami defisit sedimen sehingga pantai mengalami erosi. Keadaan tersebut akan terus berlangsung sampai terjadi suatu keseimbangan baru dimana, pada saat sudut yang dibentuk oleh gelombang pecah terhadap garis pantai baru adalah nol, yaitu tidak terjadi angkutan sedimen sepanjang pantai. Perlindungan dengan 1 buah groin tidaklah cukup efektif. Biasanya perlindungan pantai dilakukan dengan membuat suatu seri bangunan yang terdiri dari beberapa groin yang ditempatkan dengan jarak tertentu.
4.2.2 Pengukuran Slope Pantai
Dari hasil pengukuran sepanjang Bangunan Pantai, kelerengan di wilayah pesisir Kecamatan Mangunharjo Semarang dapat dikategorikan sebagai pantai yang landai. Pantai ini memiliki karakteristik yang landai, hal sesuai dengan ciri – ciri dari tipe pantai yang berada di daerah pantai utara Jawa. Hal ini mempengaruhi terjadinya penumpukan partikel sedimen di pinggiran pantai.
Kelerengan pantai pada saat pasang nilainya lebih besar dibandingkan pada saat surut. Hal ini dipengaruhi oleh adanya perubahan muka air yang lebih tinggi. Selain kenaikan muka air, perbedaan kelerengan antara saat pasang dan saat surut dapat dilihat dari nilai jarak antara dua palm gelombang yang digunakan, dimana jaraknya semakin dekat pada saat pasang.
Pada hasil pengolahan kelandaian pantai didapatkan hasil sebagai berikut :
I1 = 0.104, I2= 0.14, I3 = 0.146, I4 = 0.146, I5 = 0.12. Dapat disimpulkan dari hasil tersebut kelandaian di wilayah pesisir Kecamatan Mangunharjo Semarang berkisar pada slope = 0.1. Dengan kata lain slope di wilayah pesisir Kecamatan Mangunharjo Semarang termasuk dalam kategori sangat landai, karena kemiringannya yang sangat kecil.
Oleh karena itu, Selain jarak pantai dari jarak surut terendah tidaklah terlalu jauh dari bibir pantai yang mulai landai sehingga bisa memudahkan mencari nilai elevasi dari pantai tersebut. Karena yang kita temukan adalah pantai dengan karakteristik yang landai, hal ini juga merupakan ciri- ciri dari tipe pantai yang berada di daerah pantai utara Jawa. Hal ini yang mempengaruhi terjadinya penumpukan partikel sedimen di pinggiran pantai.

4.2.3 Pengukuran Nilai Backwash dan Swash
Berdasarkan tabel data hasil lab, massa sedimen yang terperangkap di sekop atau serokan pada saat gelombang naik ke pantai (swash) jumlahnya lebih sedikit dibandingkan ketika gelombang turun dari pantai dan kembali kelaut (backswash). Pada saat swash rata-rata sedimen yang terperangkap sebanyak 38.0125 gr dan ketika backswash rata-rata sedimen yang terperangkap sebanyak 57.06 gr. Hal tersebut menunjukkah bahwa kekuatan gelombang ketika menuruni pantai atau ketika gelombang kembali ke laut (backwash) jauh lebih besar daripada ketika gelombang menaiki pantai (swash). Dengan lebih banyaknya sedimen yang dibawa ketika gelombang kembali ke laut maka daerah tersebut merupakan daerah yang memiliki potensi besar untuk terjadinya erosi.

4.2.4 Pengukuran Gelombang
Dari data tersebut dapat diketahui tinggi maksimum (puncak gelombang) diukur dari permukaan laut dan tinggi minimum (lembah gelombang) dengan rata-ratanya adalah 85 cm dari permukaan laut.
Pengamatan gelombang secara langsung dilakukan pada sekitar pukul 10.00 WIB secara berkelompok dengan kerjasama tim menggunakan peralatan antara lain: wave pole, stopwatch untuk menghitung waktu, dan buku pencatat gelombang yang berfungsi mencatat hasil-hasil pengamatan. Metode ini di sebut sebagai metode Konvensional. Pengamatan gelombang yang dilakukan yaitu mengukur tinggi gelombang dan menghitung periode gelombang.
Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati batas puncak gelombang dan batas lembah gelombang yang melewati wave pole yang kami letakkan di sekitar 50 meter dari garis pantai untuk kemudian dicatat. Perhitungan periode gelombang dilakukan dengan cara ; pertama, menentukan titik tetap dari letak wave pole yang berfungsi sebagai acuan jarak untuk menentukan periode/waktu gelombang. Periode gelombang dihitung pada saat gelombang melewati wave pole sampai gelombang tersebut melewati batas titik tetap yang tadi telah ditentukan (perhitungan periode gelombang ini dilakukan sebanyak 200 kali ulangan). Waktu yang digunakan adalah ketika gelombang berada di puncak dan kembali menjadi puncak kembali dalam satu gelombang.
Dalam melakukan pengamatan gelombang, terdapat beberapa kendala yang terjadi, salah satunya yaitu wave pole kurang sempurna berdiri vertikal disebabkan kurangnya tegaknya wave pole di landasan dasar perairan. Hal tersebut tentu saja mengganggu pengamatan kami dalam hal keakuratan hasil pengamatan gelombang yang kami dapatkan.
Gelombang yang kami amati merupakan gelombang yang berada dekat dengan perairan dangkal, jadi berdasarkan data dan pengamatan kami, gelombang yang kami amati tepengaruh oleh angin yang relatif lambat kecepatannya dan fetch dekat dengan pantai, topografi perairan, kelandaian perairan, dan kondisi perairan yang cenderung tenang. Sehingga gelombang yang terdapat di perairan tersebut cenderung kecil dengan pola teratur, tenang dan bisa dikategorikan sebagai gelombang pembentuk pantai, bukan gelombang perusak pantai karena di tinjau dari karakteristiknya, gelombang tersebut memiliki ketinggian kecil dan kecepatan rambat yang rendah. Sehingga jika gelombang tersebut pecah di pantai akan mengangkut sedimen (material pantai). Material pantai akan tertinggal di pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap ke dalam pasir atau pelan-pelan mengalir kembali ke laut. Gelombang diperairan ini nampak menimbulkan arus sepanjang pantai yang bergerak dari Selatan ke Utara dan mempengaruhi pergerakkan sedimen yang ada di dalamnya.
Berdasarkan hasil grafik data kani (kelompok 1), gelombang tersebut (pada pukul 10.00-12.00 WIB di perairan Mangunharjo,Mangkang) tergambarkan teratur, cenderung tenang, dan ketinggiannya rata-rata hampir sama. H maks yang diperoleh adalah 10 cm dan T maks 1.2 s.
4.2.5 Pengukuran Pasut
Berdasarkan hasil pengolahan data pasang surut laut bulan Juni 2007 dari Stasiun Meteorologi Maritim Semarng didapatkan hasil bahwa nilai MSL sebesar 151 cm. Sedangkan untuk nilai HHWL dan LLWL secara berturut-turut sebesar 192 cm dan 111 cm.
Dalam perencanaan bangunan pantai di wilayah semarang data pasang surut tersebut menjadi salah satu acuan yang tidak boleh ditinggalkan. Karena akan mempengaruhi kelayakan dan manfaat yang diharapkan. Ketika bangunan pantai yang dibuat memiliki ketinggian yang lebih rendah dibandingkan dengan HHWL maka pada saat pasang tertinggi bangunan akan terendam dan manfaat yang diharapkn menjadib tidak maksimal.
Berdasarkan hasil pengukuran pasang surut laut tersebut maka dalam pembangunan bangunan pantai,bangunan harus memiliki tinggi yang lebih daripada HHWL yaitu 192 cm.
Pembuatan bangunan juga tidak boleh sama tinggi dengan HHWL, hal itu dimaksudkan untuk meminimalisir terjadinya run up ketika pasang terjadi. Apalagi adanya fenomena Land subsiden dan kenaikan muka air laut. Untuk itu ketinggian bangunan pantai harus benar benar diperhitungkan agar lebih efektif.

BAB V
KESIMPULAN

5.1 Pengukuran Dimensi Bangunan Pantai
Dalam 5 titik yang sudah diambil datanya didapatkan bahwa bangunan pantai sudah ada di daerah mangunharjo sudah cukup efektif. Keadaan tersebut akan terus berlangsung sampai terjadi suatu keseimbangan baru dimana, pada saat sudut yang dibentuk oleh gelombang pecah terhadap garis pantai baru adalah nol, yaitu tidak terjadi angkutan sedimen sepanjang pantai.

5.2 Pengukuran Slope Pantai

Dapat disimpulkan dari hasil tersebut kelandaian di wilayah pesisir Kecamatan Mangunharjo Semarang berkisar pada slope = 0.1. Dengan kata lain slope di wilayah pesisir Kecamatan Mangunharjo Semarang termasuk dalam kategori sangat landai, karena kemiringannya yang sangat kecil.

5.3 Pengukuran Nilai Backwash dan Swash

Dari data yang didapat menunjuk bahwa daerah tersebut merupakan daerah yang memiliki potensi besar untuk terjadinya erosi karena kembali ke laut (backwash) jauh lebih besar daripada ketika gelombang menaiki pantai (swash).

5.4  Pengukuran Gelombang

Gelombang yang kami amati di perairan perairan Mangunharjo (Mangkang) memiliki H maks 10 cm dan T maks sebesar 1.2 s. Hal ini dipengaruhi oleh angin yang relatif lambat, fetch dekat pantai, topografi perairan yang landai, kondisi perairan yang cenderung tenang, dapat dikategorikan sebagai gelombang pembentuk pantai karena ketinggiannya kecil dan kecepatan rambat rendah. Gelombang ini juga menyebabkan pergerakan sedimen dan arus sepanjang pantai yang dalam praktikum ini, arus sepanjang pantai bergerak dari Selatan ke Utara.

Daerah Perairan Mangkang tersebut berlokasi di sebelah utara Pulau Jawa, yang cenderung kurang mendapat pengaruh dari samudra. Hal ini juga diakibatkan karena adanya banyak pulau yang berada di sebelah utara Pulau Jawa, sehingga tinggi gelombang cenderung tidak terlalu tinggi. Hal ini berbeda dengan daerah di perairan selatan Indonesia yang mendapat pengaruh besar dari samudra, baik dari Samudra Hindia maupun Samudera Pasifik, dan angin yang bertiup pun memiliki pengaruh dari Benua Australia yang cenderung besar dan membangkitkan gelombang yang tinggi.

5.5 Pengukuran Pasut

Berdasarkan hasil pengolahan data pasang surut laut bulan Juni 2010 dari Stasiun Meteorologi Maritim Semarng didapatkan hasil bahwa nilai MSL sebesar 60.935 cm. Sedangkan untuk nilai HHWL dan LLWL secara berturut-turut sebesar 85.738 cm dan 12.118 cm. Dan dari grafik terlihat bahwa tipe pasut untuk Perairan Mangkang Mangunharjo adalah tipe campuran condong ke harian ganda.

Dalam perencanaan bangunan pantai di wilayah Semarang, data pasang surut tersebut menjadi salah satu acuan yang tidak boleh ditinggalkan, dikarenakan dapat mempengaruhi manfaat yang diharapkan. Ketika bangunan pantai yang dibuat memiliki ketinggian yang lebih rendah dibandingkan dengan HHWL maka pada saat pasang tertinggi bangunan akan terendam dan manfaat yang diharapkan menjadi tidak maksimal.

Berdasarkan hasil pengukuran pasang surut laut tersebut maka dalam pembangunan bangunan pantai,bangunan harus memiliki tinggi yang lebih daripada HHWL yaitu 85.738 cm.

Pembuatan bangunan juga tidak boleh sama tinggi dengan HHWL, hal itu dimaksudkan untuk meminimalisir terjadinya run up ketika pasang terjadi. Apalagi adanya fenomena land subsidence dan kenaikan muka air laut (sea level rise). Untuk itu ketinggian bangunan pantai harus benar benar diperhitungkan agar lebih efektif.

Dan dari nilai MHWL dan MLWL yang berturut turut bernilai 71.851 cm dan 38.012 cm dapat membuktikan bahwa kenainan muka air laut bergerak setinggi itu selama periode 19 tahun. Dan dari grafik pada buku Teknik Pantai (Triatmodjo,1999) membuktikan bahwa kenaikan muka air laut untuk daerah Semarang termasuk tinggi, dikarenakan nilai MLWL dan MHWL tersebut. Maka dari itu, pembangunan groin yang ada di daerah tersebut sangat membantu dalam meredam energi gelombnag pasut yang bergerak menuju daratan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Martono, 2006. Studi Variabilitas Lapisan Atas Perairan Samudera Hindia Berbasis Model Laut dalam Prosiding Seminar  Nasional  Aplikasi Sains dan Teknologi

Anonim. 2009. Peramalan Gelombang Laut Dalam. http://rahmat88aceh.wordpress.com/2009/02/07/peramalan-gelombang-laut-dalam/ diakses tanggal. 26 Juni 2013 pukul 09:53 WIB

Anonim. 2013. Gelombang. http://acehpedia.org/Gelombang_laut diakses tanggal. 26 Juni 2013 pukul 09:53 WIB

Anonim. 2013. Fetch dan Pembangkit Gelombang Oleh Angin Badai. http://www.scribd.com/doc/55735924/17/Gambar%C2%A014-%C2%A0Fetch%C2%A0dan%C2%A0pembangkitan%C2%A0gelombang%C2%A0oleh%C2%A0angin-badaidiakses tanggal. 26 Juni 2013 pukul 09:53 WIB

Anonim. 2010. Teori Gelombang. http://akmalchaka.blogspot.com/2010/02/teori-gelombang.html diakses tanggal. 26 Juni 2013 pukul 09:53 WIB

Anonim. 2012. Pengertian Sedimen. http://toyibatul-ilmi.blogspot.com/2012/07/pengertian-sedimen.html diakses tanggal. 27 Juni 2013 pukul 20:53 WIB

Anonim. 2010. Elevasi Muka Air Laut. http://setiawanputu.blogspot.com/2010/01/elevasi-muka-air-laut.html diakses tanggal. 27 Juni 2013 pukul 20:56 WIB

Anonim. 2012. Pasang Surut Laut. http://a298431oseanografi.blogspot.com/2012/01/pasang-surut-laut.html diakses tanggal. 27 Juni 2013 pukul 20:59 WIB

Anonim. 2013. Pengertian Pantai dan Definisi Pantai. http://www.pantai.org/others/pengertian-pantai-dan-definisi-pantai diakses tanggal. 27 Juni 2013 pukul 21:08 WIB

Anonim. 2010. Bangunan Pelindung Pantai. http://syahrin88.wordpress.com/2010/09/09/bangunan-pelindung-pantai/ diakses tanggal. 27 Juni 2013 pukul 21:15 WI

                                                                          

 

Dive Certification, Karimun Jawa, Marine Diving Club


“DIVE CERTIFICATION 2013 Karimun Jawa”, MARINE DIVING CLUB Kelautan Undip

A. Pilih Lisensimu :
1. One Star Scuba A1.
2. TwoStar Scuba A2.
3. Spesialisasi (Deep Dive/Navigasi).

B. Informasi kegiatan dan pendaftaran :
1. Acara akan dilaksanakan pada tanggal 14-21Mei 2013, dengan runtutan acara sebagai berikut :
2. PAP (Pendidikan Akademis Penyelaman) dilaksanakan di ruangan selama satu hari.
3. LKK (Latihan Keterampilan Kolam) dilaksanakan di Kolam Renang selama maksimal 3 hari dan minimal 2 hari.
4. LPT (Latihan Perairan Terbuka). Dilaksanakan selama 2 hari di Kepulauan Karimunjawa.

C. Fasilitas yang akan peserta dapatkan adalah sebagai berikut :
1. 4 Log Dive.
2. Fun dive.
3. Baju lapangan.
4. Camp fire.
5. Toolkit.
6. Akomodasi, makan + pp bus Jepara-Semarang dan pp Asdp Jepara-KarimunJawa.
7. Konsumsi dan Snack.
8. Souvenir.

D. Persyaratan Peserta :
1. Membawa foto ukuran 2×3 sebanyak 5 lembar.
2. Membawa surat keterangan sehat dari dokter dan THT.
3. Mampu berenang 200Meter.

E. Biaya Sertifikasi
1. Mahasiswa
A1 : Rp.2.300.000,00,.
A2 : Rp.2.250.000,00,.
Spesialisasi : Rp.2.250.000,00,.

2. Umum :
A1 : Rp.2.500.000,00,.
A2 : Rp.2.450.000,00,.
Spesialisasi : Rp.2.450.000,00,.

F. Cara Pendaftaran dan Pembayaran
1. Download formulir pendaftaran dan formulir kesehatan disini.
2. Kirim Formulir Pendafaran dan Formulir Kesehatan ke email : mdc_kelautan@yahoo.com
3. Pembayaran via transfer : A.n Rifyanul Ikhwan, Rekening Bank Mandiri 136-00-0732280-0
4. Harap konfirmasi apabila sudah melakukan Poin 2 dan 3 kepada :
Evi Nurul Ihsan (085223340915/2289C53D) untuk Formulir.
Rifyanul Ikhwan (085640293903/2A1E2754) untuk Pembayaran.
5. Batas akhir pendaftaran dan pembayaran 10 Mei 2013.

Kami tunggu teman-teman untuk bergabung bersama kami menjadi penyelam. Waspada Dira Anuraga. Learn Diving Now.

follow us on twitter :
@mdc_undip

visit our website :
http://www.mdc.undip.ac.id

http://mdc.undip.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=249%3Adive-certification-karimunjawa-2013-cmas&catid=32%3Akegiatan-tahunan

STUKRUR ARTIKEL ILMIAH (JURNAL)


Artikel ilmiah atau sering disebut dengan jurnal merupakan sebuah karya tulis yang dihasilkan melalui sebuah penelitian pada suatu bidang ilmu tertentu dengan menggunakan metode yang tepat sehingga dihasilkan sebuah kesimpulan. Penelitian biasanya dilakukan karena adanya maasalah sehingga harus dipecahkan melalui kajian ilmiah.
Artikel ilmiah dapat dibuat secara individu maupun berkelompok. Penelitian yang dilakukan tidak boleh sama dengan orang lain, dengan kata lain apabila sudah ada orang yang terlebih dahulu melakukan penelitian tentang maasalah A, maka orang lain yang melakukan penelitian sama maka dianggap gugur dan tidak bisa mempublikasikan penelitian itu lagi.
Didalam menulis artikel ilmiah, ada beberapa struktur penulisan yang harus diikuti, diantaranya:

1. Judul
Judul yang baik ditulis dengan singkat, padat, jelas serta merangkup semua isi tulisan. Judul terdiri dari 8-15 kata. Hindari penggunakan kata yang bertele-tele dan berulang-ulang, serta penggunakan kata yang tidak mempunyai kepentingan pada judul. Cara nya adalah coba hilangkan kata tersebut, apabila arti dari judul tidak berubah makna maka kata tersebut tidak penting, tapi apabila kata tersebut di hilangkan dan makna judulpun berubah, maka kata tersebut penting untuk dimasukkan dalam judul. Sebisa mungkin judul harus menarik karena pada judul itu lah yang menarik orang untuk membaca tulisan tersebut. Judul dapat dibuat diawal tulisan tapi bisa juga dibuat setelah selesai menulis, tergantung keinginan si penulis.

2. Nama penulis
Nama penulis ditulis tanpa menggunakan gelar, seperti: Prof,Dr,S.pd,S.T,M.si,H,Hj. Apabila artikel tersebut dibuat oleh beberapa orang maka cantumkan seluruh nama orang yang terlibat. Sedangkan orang yang paling mempunyai peranan paling besar sebagai penulis utama dengan member tanda bintang setelah namanya. Sedangkan penulis kedua,ketiga dan seterusnya memiliki porsi yang sama.
Setelah mencantumkan nama penulis, cantumkan pula alamat jelas yang dapat dituju beserta email. Apabila penulis membawahi suatu instansi, maka tuliskan pula nama instansi beserta alamat lengkap. Salah satu tujuan dicantumkan alamat supaya orang lain dapat menghubungi si penulis apabila ada keperluan menyangkut tulisan tersebut.

3. Abstrak
Abstrak biasanya bagian kedua yang dibaca setelah judul. Abstrak merupakan gambaran singkat mengenai tulisan secara keseluruhan yang mencakup latar belakang, tujuan, metode penelitian, hasil dan kesimpulan. Jumlah kata didalam abstrak kurang lebih 200 kata. (rekomendasi Unesco). Sama halnya dengan judul, didalam abstrak setiap kata harus memiliki peranan yang berarti, apabila kata itu tidak penting sebaiknya dihilangkan saja. Abstrak biasanya ditulis dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan inggris.

4. Kata kunci/key word
Kata kunci adalah sepilah kata-kata bermakna dari sebuah dokumen sehingga dapat dicari dengan mudah. Kata kunci berjumlah 3 sampai 8 kata. Untuk efisiensi, hindari penggunaan kata yang sama dengan judul. Kata kunci terletak dibawah abstrak dan biasanya dicetak miring (italic).

5. Pendahuluan
Pendahuluan berisi tentang latar belakang dan tujuan tulisan itu dibuat. Latar belakang memuat alasan kenapa diadakan penelitian tersebut sedangkan tujuan adalah harapan dan manfaat yang dapat diperoleh setelah penelitian dilakukan. Pendahuluan merupakan hasil pemikiran penulis dan oleh juga menyitir dari tulisan orang lain. Pendahuluan terdiri dari 1-2 paragraf.

6. Metodologi
Memberikan gambaran mengenai prosedur pelaksanaan penelitian dengan rinci, sehingga orang lain dapat mengerti dan melakukan penelitian dengan metode yang sama,
• Ditulis secara urut dan jelas
• Unit/ satuan parameter dicantumkan
• Sebutkan nama alat yang digunakan dan ketelitiannya
• Cantumkan lokasi penelitian dengan menggunakan peta standar berskala
• Jelaskan prosedur analsa data secara detail

7. Hasil penelitian
Hasil berupa sajian data olahan, bukan data mentah yang diambil dari lapangan. Data yang sudah didapat bisa disajikan dalam bentuk table ataupun grafik, tergantung jenis data. Apabila data berupa angka kuntitatif gunakanlah table, misal: jumlah korban tsunami aceh tahun 2004. Namun apabila data berupa persentase secara umum sebaiknya gunakan grafik sehingga dapat dilihat kecenderungan yang muncul pada suatu kajian. Misalnya: persentase tangkapan ikan laut selama 5 tahun terakhir.
Setiap table ataupun garfik harus diberi judul, sehingga pembaca dapat memahami isinya tanpa harus membaca isi tulisan secara keseluruhan. Dengan membaca judul table/grafik saja pembaca sudak tahu maksud dan isi nya. Gunakan ukuran font yang lebih kecil dari font tulisan misalkan ukuran font tulisan adalah 12, untuk judul table/grafik gunakanlah ukuran 10. Untuk table, judul terletak diatas sedangkan untuk grafik judulnya terletak dibawah.

8. Pembahasan
Pada bagian pembahasan, bisa berisi perbandingan hasil penelitian kita dengan orang lain. Menjelaskan dengan logika mengenai data yang diperoleh. Gunakan argument untuk memperkuat data yang diperoleh sehingga bisa ditelaah. Argument tersebut bisa dari penulis dan bisa juga dari orang-orang yang ahli di bidang itu. Apabila menggunakan pendapat orang lain cantumkan pustaka(sitasi).
Pada bagian pembahasan ini lah penulis mengeluarkan pemikirannya, mencurahkan segala hasil analisa sesuai dengan data yang ada untuk mendapatkan kesimpulan.

9. Kesimpulan dan saran
Memberikan gambaran tentang hasil dari penelitian secara ringkas dan jelas. Saran berupa hal-hal yang belum dilakukan pada penelitian ini dan harapan kedepannya.

10. Ucapan terima kasih
Memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada orang atau instansi yang telah banyak membantu dalam pengerjaan penelitian sehingga dapat diselesaikan dengan baik.

11. Daftar pustaka
Buku:nama penulis,tahun,judul buku,edisi,penerbit,kota penerbit,jumlah halaman

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 587 pengikut lainnya.